Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2022

Niat

 


Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Semua perbuatan tergantung niatnya dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) yang diniatkan. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia niatkan."

(HR. Bukhari No. 1 Kitab Al-Iman)

Dari hadits ini ada dua hal yang sangat penting untuk dipahami. "Nilai" suatu kebaikan bergantung pada niat. Kedua, seseorang memperoleh sesuatu sesuai yang diniatkan. Jadi, kebaikan menjadi kurang afdol bahkan bisa tidak ada artinya disisi Allah tanpa disertai niat mengharap keridhaan-Nya. Kemudian, barangsiapa yang cuma berniat memperoleh sesuatu (keduniawian) tanpa mengharap keridhaan-Nya hanya akan mendapatkan apa yang menjadi niatnya itu (keduniawian). Niat yang terbaik adalah selalu menyertakan pengharapan keridhaan Allah di setiap kebaikan termasuk pekerjaan sehingga kita memperoleh dua kebaikan sekaligus, yaitu hasil di dunia dan pahala untuk akhirat.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec
2 Juli 2022

Senin, 30 Maret 2020

Positive Thinking


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Tersebarnya wabah bukan hal baru dalam sejarah kehidupan manusia. Sudah ada sejak dahulu. Namun yang menarik untuk dicermati, bahwa jumlah korban dibanding orang yang selamat, ternyata lebih banyak yang selamat.

Hingga saat inipun, jumlah korban wabah covid-19 di seluruh dunia, dibanding yang sehat, tetap lebih banyak yang sehat. 

Jadi, nikmat yang Allah berikan pada kita itu lebih banyak dibanding musibah yang ditimpakan-Nya. Maka berhentilah berkeluh-kesah! Sebab hal itu tidak menyelesaikan masalah. 

Tumbuhkan pikiran positif. Apalagi tentang Allah ta’ala.

Tahukah Anda, bahwa sebenarnya kenikmatan dunia itu sangat simpel. Hanya tersimpul dalam tiga poin. Sebagaimana dijelaskan Baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam,

"مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا"

"Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman di dalam rumahnya. Badannya sehat. Memiliki makanan untuk hari itu. Maka seakan ia telah memiliki dunia".
(HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh beliau serta al-Albaniy.)

Tiga hal itu adalah:

Pertama: Aman tinggal di rumah

Rata-rata kita saat ini bisa berkumpul dengan keluarga di rumah. Sebuah nikmat yang teramat mahal bagi sebagian kalangan. Dikarenakan padatnya pekerjaan yang ‘menggila’. Bahkan weekend pun masih digunakan untuk lembur.

Sekarang, karena adanya himbauan social distancing, semua anggota keluarga ‘dipaksa’ berkumpul di rumah. Bahkan di luaran sana, ada aparat berpatroli menjaga agar kita masuk ke rumah. Bukankah ini sebuah nikmat yang tak ternilai?

Kedua: Sehat jasmani

Dengan gencarnya himbauan gaya hidup sehat, banyak perilaku salah yang kita tinggalkan. Sekarang rumah menjadi lebih bersih. Pola makan semakin teratur. Bertambah rajin olahraga dan berjemur matahari pagi. Efeknya imunitas tubuh pun makin meningkat.

Ketiga: Bisa makan

Petunjuk nabawi di atas menjelaskan bahwa bisa makan di hari ini, adalah sebuah kenikmatan luar biasa. Bahagia itu tidak harus punya tabungan yang cukup untuk makan setahun ke depan.

Tak bisa dipungkiri bahwa penghasilan berkurang nominalnya. Namun kekurangan itu bisa disiasati dengan berburu keberkahan. Sehingga yang sedikit itu bisa cukup. Atau bahkan lebih.

Caranya? 
Syukuri dan berlatih hidup sederhana. Bukankah dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekeluarga pernah hanya mengkonsumsi kurma dan air putih selama berbulan-bulan? 

Kurangi pengeluaran yang tidak primer. Contohnya pulsa dan lauk-pauk berlebih. Apalagi pengeluaran yang tidak ada manfaatnya. Seperti rokok. 

Adapun orang dikaruniai Allah rizki banyak, berbagilah. Sekarang kesempatan emas mendulang pahala melimpah. Sebab pahala sedekah akan semakin berlipat, manakala kebutuhan si fakir semakin mendesak.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 
Ahad, 4 Sya’ban 1441 / 29 Maret 2020

Senin, 23 September 2019

Sebetulnya Kesulitan itu Lebih Aman

Sangat wajar apabila orang bergembira dengan jabatan tinggi yang didudukinya, uang bayak yang dikantonginya, atau aneka kesuksesan hidup yang mengiringinya. Namun, berhati-hatilah saudaraku apabila kita tengah memiliki itu semua. Sebab, yang namanya kesenangan itu lebih bahaya daripada kesulitan.

Mengapa? 
Di dalam kesenangan, nafsu biasanya akan lebih bebas beraksi. Saat memiliki banyak uang misalnya, kita lebih leluasa untuk membeli apa saja yang kita inginkan. Sesuatu yang tidak penting dan tidak bermanfaat pun dibeli dan dipamerkan. Kita baru ingat kalau barang yang sudah di beli itu tidak bermanfaat ketika sedang kesulitan uang atau saat melihat iklan jual beli barang bekas.

Begitu pula dengan gelar, jabatan, atau kedudukan, dia bisa menjadi ujian yang melenakan. Saat sedang menjabat kita merasa penting dan mulia sehingga bisa dengan seenaknya memerintah dan memarahi orang lain. Nafsu kita merajalela di sana. Namun, ketika jabatan itu lepas, nafsu kita akan diam tidak berkutik. Andaipun setelah tidak menjabat kita masih suka mengatur dan merasa penting, kita harus segera sadar.
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir." (QS. al-Ma'arij [70]:19-21).
Ayat-ayat berikutnya mengungkapkan pengecualian bagi orang-orang yang setia melaksanakan salat, bersedekah, meyakini adanya Hari Pembalasan dan Azab Allah, menepati janji, dan selalu berbuat baik.

Manusia diciptakan suka mengeluh. Namun, dalm menghadapi sebuah kesulitan, kita bisa curhat dan memohon pertolongan Allah, misalnya ketika salat. Kita yakin sepenuh hati bahwa hanya Allah Ta'ala yang dapat menolong karena Dialah yang menciptakan dan menggerakkan semuanya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat terjadi tanpa izin-Nya.

Kesulitan lebih mudah dijadikan jalan bertobat dan mendekatkan diri kepada-Nya daripada kesenangan. Bagaimana tidak, dalam kesenangan nafsu pun ikut menggelora. Ketika memeroleh pangkat dan jabatan atau harta, kita cenderung pelit dan lupa kepada Zat yang Maha Pemberi, apabila terhadap sesama makhluk-Nya yang semestinya kita berbagi. Kita akan beranggapan kalau semua itu merupakan hasil kerja keras sendiri.

Kita perlu meragukan ucapan diri sendiri. Misalnya ketika kita berucap, "Saya akan bersedekah tetapi nanti kalau saya sudah memperoleh untung lebih banyak." Apabila kemudian mendapat lebih, nafsu akan tetap merasa kurang.
"Tidak! Bahkan, kamu mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan (kehidupan) akirat." (QS. al-Qiyamah [75]:20-21).
Dalam kesenangan kita mudah lupa dan bernafsu pada hal-hal duniawi daripada kehidupan akhirat yang lebih penting.

Jadi, apalah artinya kesulitan di dunia, apabila dia bisa membuat kita bertobat dan mulia di sisi Allah. Ada banyak orang yang hidup bersama kesenangan, akan tetapi dibiarkan leluasa berbuat maksiat dan dosa. Na'udzubillah.. Menurut saya, lebih baik keadaan sulit yang mengantarkan kita kepada tobat dibandingkan kesenangan yang membuat semakin jauh dari-Nya.

Hal ini tentu saja bukan berarti anjuran untuk mencari-cari kesulitan maupun kesulitan untuk sekadar pencitraan. Kesulitan yang di maksud adalah episode -episode kehidupan yang ditakdirkan Allah yang harus kita terima sambil bertobat kepada-Nya. Yakinkan diri bahwa,
"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. asy-Syarh [94]:5-6).
Mari kita tetap berikhtiar dan berharap hanya kepada Allah Ta'ala.

"-----------------------------------------------------------------
Keluh kesah menandakan kalau kita tidak ridha dengan takdir-Nya. Padahal, bagi orang beriman setiap takdir pasti baik.

(Sumber: Buku Ikhtiar Meraih Ridha Alloh Jilid 1 karangan Abdullah Gymnastiar)

Sabtu, 26 Januari 2019

Sahabat Dunia Akhirat

Assalamualaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuhu.

SubhanAllah sahabat sholehku, 

Simak Kalam Allah ini, 
“Sesungguhnya hanya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS Al Hujarat 10)
SubhanAllah Rasulullah bersabda,
“Sungguh seseorang dikumpulkan kelak di akhirat bersama siapa yang dia cintai di dunia” (HR Bukhori).

Al-Hasan Al-Bashrii berkata:
“Perbanyaklah sahabat-sahabat mu’minmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat”.

Pejamkan mata, berfikirlah...
Siapa kiranya di antara sahabat-sahabat kita yang akan mencari dan mengajak kita bersama-sama ke Syurga?

Dari saudaramu yang mencintaimu karena Allah.

Subuh Jumat ini di mesjid Al Munawarah Penang Malaysia bersama ikhwany fillah

Muhammad Arifin Ilham 
25 Januari 2019

Sabtu, 30 Desember 2017

Pilar Keluarga Selamat Dunia Akhirat


"Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka..."(QS AtTahrim 6)
1. Pilarnya adalah hidup bahagia hanya dalam Alqur'an dan Sunnah Rasulullah.

2. Semua berfikir dan bekerja untuk saling membahagiakan keluarganya.

3. Membantu keluarganya yang mengalami kesulitan ekonomi.

4. Menjadikan rumahnya sebagai madrasah dan markaz da'wah.

5. Bila ada berita tentang keluarganya segera tabayyun, cek recek agar selamat dari fitnah.

6. Kalau ada aib keluarganya, ia tutupi bukan disebarkan. Menyebarkan aib keluarga sama saja meludah ke muka sendiri.

7. Kekurangan bahkan kesalahan keluarganya juga berarti kekurangan dan kesalahan dirinya, maka saling menasehati, sabar dan doa adalah jalannya.

8. Kata "maaf" adalah kata sakti untuk menjaga kedamaian dan shilaturrahm.

9. Ada guru panutan bagi keluarga untuk menggadu dan memberi nasehat.

10. Ingat tugas utama dan kebahagia hakiki adalah BILA SEMUA KELUARGA MERAIH RIDHO dan SYURGA ALLAH.

Allahumma ya Allah jadikanlah keluarga kami dalam penjagaan hidayah dan berkahMu dunia akhirat, aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
29 Desember 2017

Senin, 10 Juli 2017

Tugas Hidup di Dunia Ini


Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah kita kenal tugas rumah tangga, tugas kantor, tugas negara, tapi sedikit yang tahu TUGAS HIDUP DI DUNIA INI NGAPAIN!?

Mengapa malas ibadah?
Mengapa ma'shiyat?
Mengapa berbuat zholim?
Mengapa banyak berbuat sia-sia?
Mengapa gampang stres?

Karena tidak tahu tugas hidup di dunia ini.

Dengan RAHMAT-NYA, ALLAH utus nabi Muhammad untuk menyampaikan tugas utama hidup di dunia bersama ALQUR'AN dan sekaligus menjadi USWAH HASANAH bagi umat manusia.

Tugas utama hidup di dunia ini :

Meluruskan aqidah,
Meni'mati Ibadah,
Perbaikan akhlak,
Semangat amal sholeh,
Da'wah,
Jihad, dan
Muhasabah diri.

Allahumma ya Allah berkahilah harakah da'wah dan persahabatan kami...aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
9 Juli 2017

Rabu, 21 September 2016

Jodoh Yang Shaleh

Sungguh bahagia kalau kita punya jodoh saleh, yang bisa menjadi penyejuk saat kita lelah menghadapi tantangan-tantangan hidup, menjadi penggembira saat kita sedih, dan menjadi pelindung saat kita menghadapi kesulitan. Jadi, mempunyai jodoh yang saleh bisa dipastikan menjadi dambaan setiap orang. 

Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kalian berusaha agar memiliki hati yang selalu bersyukur, mempunyai lisan yang selalu berzikir, dan memiliki jodoh saleh yang bisa saling membantu untuk urusan akhirat.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah). 

Oleh sebab itu, jodoh yang saleh merupakan indikator kebahagiaan dunia.

Aam Amiruddin
19 September 2016

Kamis, 14 Juli 2016

Wahn

Assalaamu alaikum wa rahmatullah wa barkaatuhu.

ALLAHU AKBAR kini kita hidup di era penuh tantangan, godaan, fitnah, kezholiman, ma'siyat sampai masa bodoh. Kaum kuffar yang terus memperangi bahkan setiap hari kita dapat menyaksikan saudara kita dibunuh karena mereka Muslim, demikian kaum musyrikiin, didukung oleh kaum faasiqiin dan munafiqiin yang boleh jadi mereka beragama Islam tetapi anti Syriat Allah, pobia Islam, mendukung bahkan bekerja sama hingga sampai membuka jalan kekufuran dan kemusyrikan berkuasa. Sementara yang mengaku muslim sendiri banyak yang terlena dunia ma'siyat dan berbuat zholim pada saudaranya, plus dengan muslim yang asyik dengan dirinya, hobbynya, masa bodoh, cuek, seakan akan tidak ada terjadi apa-apa. Kadang pada keluarga sendiri yang jauh dari Islam, belum lagi perpecahan umat Islam yang semakin memperparah keadaan umat mulia ini.


SubhanAllah keadaan ini persis yang telah Rasulullah sampaikan 15 abad silam, dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berkata, “Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang rakus yang makan mengerumuni makanannya”, Salah seorang sahabat berkata, “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?”. Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn”. Kata para sahabat, “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu?
Beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati”
(HR. Abu Daud dan Ahmad).


Lantas bagaimana sikap kita, sahabatku?!


Semakin TAKUTLAH kepada ALLAH.
TETAPKAN diri dalam ISTIQOMAH.
Bangunlah sholat malam.
Selalu berjamaah di mesjid.
Hidupkan hati selalu berzikir.
Selalu jaga wudhu.
HIDUPKAN SUNNAH RASULULLAH.
Jaga, bimbing, selamatkan KELUARGA.
BERGABUNGLAH dengan para SAHABAT SHOLEH.
Dengar nasehat dan berguru pada ULAMA ISTIQOMAH.
HADIRILAH majlis ilmu dan zikir.
Maksimalkan perhatian, pikiran, harta dan doa terhadap KEADAAN UMAT terutama saudara-saudara kita yang ditindas.
Sayangilah RENDAH HATI pada umat nabi Muhammad.
SEDERHANALAH, jangan banyak tertawa, jaga perasaan.
"How can we sleep on the blood of syuhada Palestina, Afghan, Irak, Syuria, Africa, Rohingya...".
Tetaplah BANGGA dengan ISLAM.
Teruslah BERDA'WAH.
Sibukkanlah diri dengan asyik MUHASABAH DIRI.
Jangan pernah berhenti BERDOA.
Dan FULL TAWAKKAL, hanya ALLAH PENOLONG KITA.
Sungguh sikap ini memang berat kadang dianggap asing, aneh, kampungan, sok alim, ekstrem bahkan dituduh teroris.


Rasulullah bersabda, “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, BERUNTUNGLAH ORANG-ORANG YANG ‘ASING’.” (HR. Muslim).

“Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.” (HR. Tirmidzi).

ALLAHUMMA ya ALLAH selamat kami, keluarga kami, negeri kami, seluruh umat Rasulullah yang sangat kami cintai...aamiin....

Silahkan share untuk sahabat mu'min kita tercinta.


K. H. Muhammad Arifin Ilham 
13 Juli 2016

Senin, 09 Mei 2016

Selalu Ada Batu Sandungan

Saudaraku, hati-hatilah dan bersabarlah dalam menjalani hidup ini. Karena dalam hidup ini selalu saja ada batu sandungan.


Dunia ini rumah kesulitan....
Siapapun yang tinggal di dunia, pasti pernah merasakan kesulitan.
Siapapun yang berjalan di bumi ini, pasti pernah kesandung batu.

Halangan atau batu sandungan adalah aroma kehidupan. 
Agar manusia selalu hati-hati dan waspada.
Agar manusia selalu berharap dan berdoa pada Alloh.
Agar manusia tidak betah tinggal di dunia.
Karena dunia ini hanya tempat singgah sementara.
Rumah kita yang sesungguhnya adalah di surga nanti. Amin.



Dalam usaha, selalu dirongrong pesaing atau kompetitor.
Dalam berkendara, selalu ada tikungan, batu atau lubang.
Dalam kantor, selalu saja ada koruptor.


Makanan, diganggu lalat.
Hidangan, diganggu semut.
Gudang, diganggu tikus.
Tidur malam, diganggu nyamuk.


Bercocok tanam, diganggu hama.
Beternak binatang, diganggu penyakit.
Berdagang, diganggu penipu.
Pengangguran, diganggu mertua.



Renungan:

Dakwah Rosul saw pun, selalu mendapatkan batu sandungan. Dakwah di Mekah dihalangi oleh orang kafir Quraisy. Bahkan pamannya Abu Lahab, Abu Jahal turut memusuhi Beliau. Dakwah di Madinah diganggu oleh orang Yahudi dan orang-orang munafiq.



Graha Pencerah Jiwa, 


Ustadz Nanang Iskandar Muda
Ahad, 08 Mei 2016

Minggu, 08 November 2015

Kita Patut Bermuhasabah

Apabila Allah Tidak Mengkehendaki Kita Lagi
Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia...
Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak...
Allah akan sibukkan kita dengan urusan menjalankan perniagaan...

Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan...
Semua hanya titipan.

Sekiranya kita mampu bertanya pada orang-orang yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah SWT dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi, sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati-matian untuk merebut dunia.
Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah dan beribadah kepada Allah...

Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, rumah besar, mobil mewah.
Kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu orang lain lebih dari kita?

Kita tidak pernah cemburu melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita....
Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain bangun di Sepertiga Malam, sholat Tahajud & bermunajat.

Kita cemburu apabila melihat orang lain ganti mobil baru dengan yang lebih mewah...
Tetapi jarang kita cemburu apabila melihat orang lain yang bisa khatam Al'Quran sebulan dua kali...

Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin, tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita, maka panggilan Illahi bertambah dekat...

Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Hidup di dunia menentukan kehidupan yang kekal nanti di Akhirat.

Sesungguhnya mati itu Benar. 
Alam kubur itu benar.
Hisab itu benar.
Padang Mahsyar Allah itu benar.
Surga dan neraka itu benar...

Jumat, 06 Februari 2015

Syukur, Sabar Dalam Taat Dan Selalu Baik Sangka

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 

Ingat sahabatku, Kemuliaan bukan ada pada kekayaan atau kemenangan, demikian kehinaan bukan ada pada kemiskinan atau kekalahan. 
"Jangan kalian mengira mereka yang dikasih nikmat itu, ALLAH memuliakan mereka, dan jangan pula kalian mengira mereka yang disusahkan itu, ALLAH menghinakan mereka" (QS Al Fajr :15-16). 
Coba sahabatku simak baik-baik surah Hud ayat 15-16, 
"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan".

Ma'siyat lancar, koruptor selamat, hianat sukses. So boleh jadi nikmat itu adalah fitnah, "al istidraz" kesannya nikmat tetapi azab tertunda, dan boleh jadi susah itu rahmat. Karena itu sikapi semua dengan SYUKUR, SABAR dalam TAAT dan selalu BAIK SANGKA...insyaAllah...aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
5 Februari 2015

Kamis, 08 Januari 2015

Banggalah & Berbahagialah Memiliki Allah Yang Maha Pengampun.

Apa-apa yang luput, dari dunia, ga usah sedih. Sedihlah bila qt bermaksiat kepada-Nya, durhaka kepada-Nya dan melewatkan ibadah.

Kapan pun engkau mau sujud kepada-Nya, selalu ditunggu-Nya. Seberapapun dosamu, Allah punya Ampunan yang lebih besar dari semua dosamu.

Jangan juga risau dengan besarnya masalahmu. Sebab Allah punya Kekuasaan dan Kebesaran yang jaaauuuuuuuhhh LEBIH BESAR dari semua masalahmu. Datangi aja Allah, dan dekati. Sepenuh hati, sepenuh rasa. Sungguh Allah punya semua kekayaan dan kemampuan yang qt butuhkan.

Allahu Akbar. Allah Maha Besar.

Jangan bangga dengan dosamu. Dan jangan pula bersedih. Banggalah dan berbahagialah memiliki Allah Yang Maha Pengampun.

Ustadz Yusuf Mansur
7 Januari 2014

Senin, 01 Desember 2014

Alangkah Bahagianya Menjadi Seorang Muslim"

SubhanAllah sungguh dunia ini sangat indah di mata pencintanya sehingga ia kerahkan semua hati, pikiran, tenaga dan semua potensi untuk menggapainya agar ia bisa bersenang-senang sepuas-puasnya (QS An Naml 4) bahkan memandang rendah orang beriman yang disibukkan dengan ibadah dan amal sholeh (QS Al Baqoroh 212).

Tetapi kemudian di Akhirat pecinta dunia itu sangat amat menyesal, dan berandai-andai "alangkah bahagianya menjadi seorang Muslim" (QS Al Hijr 2). 

"Siapa cari dunia pasti sangat melelahkan, dan siapa yang cari Ridho dan SyurgaNya, insyaAllah menyenangkan". 

So sahabat sholehku, bersyukurlah sebagai seorang muslim yang disibukkan dengan amal ibadah, banggalah, Jangan minder, dan tetaplah rendah hati. Renungan diri abang dalam penantian waktu sholat berjamaah di Bandara Soekarno Hatta.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
30 November 2014

Selasa, 25 November 2014

Payah Dah Kita Ini

hiks hiks hiks... what make us cry is not iman... but hutang... putus cinta... di PHK. Payah dah kita ini. Kapan ya hati kita hidup?

Kapan qt nangis sebab ngeliat dan ngerasa ada Kasih Sayang Allah? Kebesaran Allah. Selama ini qt bisa nangis hanya sebab kesukaran dunia saja.
Bukan kita kali ya? Saya.

Kita takutnya juga sama hal-hal dunia saja. Takut ga makan, takut ga kerja, takut sama debt collector, dll. Tapi ga takut sama azab Allah.
Salah takut nih kita...

Kita biasa takjub keheranan sama manusia, lalu memuji kehebatannya yang barangkali palsu... Tapi sama Allah...? Duh... ga ada kagumnya.

Kita malu kalo ga lulus. Malu kalo miskin. Malu sama ga sukses. Malu ga berhasil. Tapi ga malu sama Allah... Ga berjamaah di masjid, ga malu.

Allah dah kasih kaki, kan harusnya malu. Koq bisa? Ga jalan ke masjid?
Padahal punya kaki. Maen bulutangkis 3 set, kuat. Joging, kuat.


Kita marah kalau ada yang membohongi kita, mengkhianati kita. Tapi kalo ngebohongin Allah? ngekhianatin Allah? Sudah segitu kerasnya hati kita?

Coba malu yuk... Kalo ga ke masjid untuk berjamaah. Met berjamaah ya... Tunjukkan sedikit ke Allah bahwa qt masih sedikit punya malu.

Ustadz Yusuf Mansur
23 November 2014

Senin, 27 Oktober 2014

Umur Manusia Hanya 1,5 Jam Waktu Akhirat.

“Sesungguhnya sehari di sisi TuhanMu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs. Al-Hajj:47)

Berdasarkan ayat di atas bahwa 1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia, sekarang mari kita hitung,
1000 tahun (dunia) = 1 hari (akhirat)
1000 tahun (dunia) = 24 jam (akhirat)
1 tahun (dunia) = 24/1000 = 0,024 jam (akhirat)
Jadi bila umur manusia rata-rata 63 tahun maka menurut waktu akhirat adalah 63 x 0,024 = 1,5 jam (akhirat)

Allah SWT memberi kita umur di dunia ini rata-rata hanya 1,5 jam waktu akhirat. Pantaslah banyak Firman Allah SWT yang selalu mengingatkan kita masalah waktu seperti dalam surat Al-'Ashr :
(1) Demi masa
(2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
(3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al-'Ashr : 1-4)

Sabtu, 23 Agustus 2014

Tujuan Hidup

Berat ringannya hati menghadapi berbagai episode ini tergantung dari tujuan hidup.

Bila Ridho Alloh, cinta Alloh dan perjumpaan dengan-Nya yang menjadi cita-cita dan kerinduan, niscaya akan terasa ringan seberat apapun cobaan.

Namun bila duniawi, nafsu, cinta makhluk, penilaian orang yang jadi tujuan pasti akan terasa amat berat, untuk hal yang remeh sekalipun.

KH. Abdullah Gymnastiar
21 Agustus 2014

Selasa, 18 Maret 2014

Islam & Muslim

Islam & muslim harus tampil elegant dalam fastabiqul khairat membangun negeri ini. Dan berjuang aja yang terbaik dengan the beauty of Islamnya.
Islam & muslim, harus pinter-pinter ummatnya. Pada sekolah dan kuliah yang bener, S1, S2, S3. Kalo perlu di luar negeri. Minta rizkinya dari Allah.
Islam & muslim, ummatnya kudu kerja yang bener, usaha yang bener, giat, rajin, terukur, cerdas, tuntas, ikhlas, punya greget, punya impian...

Sementara jika ada yang bertarung dengan cara-cara yang ga bener di dunia ekonomi, dan kekuasaan, ga usah risau. Kalo bisa nasihatkan, nasihatkan. Kalo ga bisa dinasihatkan, maka yang curang-curang, yang jahat-jahat, yang berbuat makar dan tipu daya, ga usah dirisaukan. Urusannya sama Allah.
Lurus aja. Lempeng aja. Pikirin perbuatan ummat Islam dan ummat muslim. Beri yang terbaik untuk semesta dan seisinya. Jangan pikirin perbuatan orang lain.

Perhatikan kejujuran, kebersihan, kedisiplinan, ketertiban. Tunjukin the beauty of Islam. Dari hal-hal kecil, meludah, sampah, lalu lintas. Kalo perlu, mulai dari pakaian dan penampilan. Benahin. Ikut nolong Islam dan muslim, dengan jadi orang yang enak diliat.

Pake minyak wangi, periksa bau gigi dan ketek. Supaya nyaman orang berada di deket kita. Sepatu, semir. Rambut, sisir. Kuku-kuku diperiksa, jangan ampe item. Liat sampah, jadi yang duluan ambil, jangan keduluan orang.

Jangan buang sampah dari mobil, motor. Malu sama ummat lain. Apalagi klo ada tulisan Allah atau atribut Islam di mobil atau motornya.

Duluin kepentingan orang. Baik ketika jalan kaki, nyebrang, berkendaraan, di restoran, di pasar, duluin orang lain. Tunjukkan kesantunan. Dengan menunjukkan itu semua, percayalah, pride dan proud juga akan naik dengan sendirinya. 'izzah & muru'ah, kemuliaan dan kehormatan akan datang.

Jaga lisan. Jangan ampe gates jadi orang. Jangan ampe ada yang sakit dan tersinggung. Jaga tangan, jangan ampe jail. Jaga pikiran dan hati jangan ampe kotor. Tar salah-salah menjelma jadi kekotoran juga.

Penuhi masjid. Tapi masuk dengan kerapihan sendal. Rapihin sendal yang orangnya dah masuk duluan. Supaya enak diliat dari luar. Pake wewangian.

Baca Qur'an di manapun saat senggang. Tunjukkan kepada dunia dengan niat dakwah, bahwa jadi ummat Islam, ummat muslim, ga boleh ada yang sia-sia.

Jangan ampe nongkrong yang ga ada faedahnya. Kalo pun nongkrong sebab berkawan, jangan lama-lama. Ajak kawan-kawan tersebut jalan-jalan. Minimal dapat olahraga jalan kaki.

Kasih prestasi sama dunia. Supaya Islam dan muslim juga bermakna: prestasi. Jangan seperti sekarang, yang keliatan kemunduran dan kejelekan terus.

Bikin dunia perlu sama Islam dan muslim. Jangan ampe kita dirasa ga diperlukan. Malah jadi beban. Tunjukin dunia perlu ama kita. Dengan jadi yang terbaik.

Jadi ustadz, jadilah yang terbaik, he he he. Ini mah buat saya ya? he he he... iya dah...
Jadi istri, jadilah istri terbaik dibanding istri-istri suami orang. Why? Why itu mengapa.
Jadi suami, jadilah suami terbaik. Jadi anak, jadilah anak terbaik. Murid terbaik, guru terbaik. Dosen terbaik. Staff terbaik...
Jadi kakak terbaik. Jadi adik terbaik. Jadi tetangga terbaik. Jadi sodara terbaik.
Jadi mertua terbaik. Jadi orang tua terbaik.
Jadi walikota, gubernur, menteri, presiden, terbaik, dari seluruh yang pernah jadi. Why? Because we are muslim. Because Islam. Karena Allah.

Naikin kemuliaan, harga diri, kehormatan, dengan jadi the winner. Jangan jadi the looser. Mulai deh dari yang kecil-kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang. Misal, rapihin kamar sendiri. Rapihin bekas makan sendiri.

Kalo lagi ngantor, pas pulang kerja, meja dan ruangan pastikan bersih dan rapih. Bikin OB bengong ga ada kerjaan. Sapuin dulu, pel dulu.

Ya, mulailah dari hal yang kecil, diri sendiri dan dari sekarang.

Allah sudah stempel ummat Islam dengan sebutan Khoiro Ummat. Ummat Terbaik... Maka, buktikanlah... Salam hormat, Yusuf Mansur.

Ustadz Yusuf Mansur
16 Maret 2014

Senin, 30 Desember 2013

Salah Fokus

Hidup yang meletihkan adalah yang salah fokus, fokus kepada perasaan diri, fokus kepada duniawi, fokus kepada nafsu, fokus kepada penilaian manusia.

Bila hati ini fokus kepada Alloh semata, fokus membawa dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Alloh, fokus kepada penilaian-Nya niscaya akan nyaman dan mantap. Serta akan dekat dengan pertolongan-Nya.

KH. Abdullah Gymnastiar
14 Desember 2013

Selasa, 10 Desember 2013

GELISAH...

Semua pangkal kegelisahan adalah cinta duniawi.
Salah satu diantaranya keinginan dihormati dan tidak suka dianggap remeh.

Semakin sulit menerima saran, pendapat, nasehat, apalagi kritik dan koreksi pasti akan semakin gelisah tak tenang, karena sudah memasuki wilayah cinta dunia.

Orang yang mudah tersinggung, sakit hati bahkan benci dan dendam itupun termasuk yang tak akan tenang dalam hidupnya, karena hatinya amat bergantung kepada sikap orang lain, bukan mencari kedudukan di sisi Alloh.

KH. Abdullah Gymnastiar
27 November 2013

Kamis, 17 Oktober 2013

Nafsu Kemewahan Duniawi

Semakin senang dan puas hanya dengan Penilaian Alloh Yang Maha memiliki dan menentukan segalanya, yang maha Baik, pasti tak akan sibuk dengan penilaian makhluk.

Rosulullah...tak punya istana, tak pakai mahkota, tak menggunakan singgasana dan asesoris duniawi lainnya. Karena semua itu bukan tanda kemuliaan sama sekali.

Nafsu kemewahan duniawi sesungguhnya seperti meminum air laut semakin diminum semakin kehausan, sampai hilang akal sehatnya dan membatu hati nuraninya.

KH. Abdullah Gymnastiar
6 Oktober 2013

Jaga Iman dan Akhlak

 Sahabatku iman yang paling baik adalah akhlak Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ ...