Tampilkan postingan dengan label sombong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sombong. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2019

Ringan Menerima Takdir

Saudaraku, ada perumpamaan lama. Misalkan, kita sedang berada di dalam sebuah ruangan gelap. Kemudian, tiba-tiba ada seseorang memukul dengan gulungan koran. Kira-kira apakah kita akan marah? 

Secara manusiawi tentunya akan marah. Tetapi, apakah kita tetap emosi ketika lampu dinyalakan dan ternyata yang memukul itu adalah mertua? Dia yang sudah merestui kita menikahi anaknya, ditambah bonus apartemen megah, dua mobil mewah, serta deposito lima milyar. Rasanya kecil kemungkinan orang akan marah. 

Maksudnya, terhadap orang yang berbuat baik kita jarang kecewa, walaupun kadang keinginan orang tersebut tidak sesuai dengan harapan kita. Gulungan koran tidak ada apa-apanya dibanding tumpukan uang milyaran. Itu terasa ringan dibandingkan apartemen, mobil, dan terutama restu untuk menikahi putrinya. 

Nah, itu kepada sesama makhluk. Kalau terhadap makhluk kita bisa begitu, seharusnya kita bisa lebih mampu menerima setiap takdir dari Allah. Dia yang telah menciptakan dan memberi rezeki yang tidak ternilai kepada kita sampai saat ini. 
"Tidak ada satupun musibah yang menimpa di bumi ini maupun pada dirimu, kecuali sudah tertulis di dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak terlalu berduka-cita dengan apa yang Iuput darimu, dan tidak berbangga-bangga diri dengan apa yang Allah berikan padamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri."
(QS. AI-Hadid [57]:22-23). 
Jadi, beratnya cobaan hidup, perih dan getirnya batin ini menghadapi takdir, dikarenakan kita belum yakin bahwa yang menimpakan takdir ini adalah Zat Yang Mahabaik. Dia yang selama ini selalu berbuat baik. Ketika mendapatkan ujian dan tidak menganggap ujian ini datang dengan izin dari-Nya Allah, kita pasti merasa berat. 

Orang-orang yang sering kecewa dalam menjalani hidup adalah orang-orang yang sok tahu dan lebih condong kepada nafsu. Coba lihat para sahabat Nabi SAW. Mereka sudah tidak peduli, apakah hidupnya senang atau susah, dipuji atau dicaci, sehat atau sakit. Mereka sangat paham bahwa di dalam keduanya terdapat kebaikan. 
”Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]:216). 
Jadi. apabila pernikahan kita tiba-tiba batal, yakinlah bahwa itu bukan sebuah keburukan sehingga tidak usah kecewa berkepanjangan. Kalau memang bukan jodoh, pernikahan pasti tidak akan berlangsung. Boleh jadi, Allah Ta'ala ingin mengganti dengan yang lebih baik. Jalani saja. Jika surat undangan sudah terlanjur disebar, maka tinggal membagikan surat tidak jadi diundang. 

Ingin kuliah tidak lulus ujian atau ingin mengabdi di pemerintahan tetapi tidak lolos tes CPNS, bukanlah akhir kehidupan.Yang penting niat mengikutinya benar dan itu sudah menjadi amal saleh. Siapa tahu Allah mempunyai rencana lain untuk kita. Begitu juga bagi yang sakit dan telah berobat ke mana-mana tetapi belum sembuh, ikhtiarnya sudah menjadi amal.

”Seharusnya terasa ringan bala yang menimpa kepadamu karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji kamu. Maka Allah yang menimpakan kepadamu takdir-Nya itu, Dia pula yang telah biasa memberikan kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu. Dialah yang membiasakan engkau merasakan sebaik-baik pilihanNya atau pun pemberiannya.” (AI-Hikam, No.115). 

Apa pun yang sudah terjadi itulah namanya takdir, Tinggal bagaimana kita menerima setiap episode kehidupan, yaitu dengan sabar dan ridha terhadap Suatu takdir akan terasa ringan ketika kita yakin bahwa dia datang atas izin dan dari Allah Yang Maha Tahu segala sesuatu, Yang Maha Baik, dan yang selama ini pun selalu berbuat baik. Dengan hati yang ridha, tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ke episode takdir yang lain. 
“Bolehjadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. ”
(QS. al-Baqarah [2]:216)

KH. Abdullah Gymnastiar
22 Desember 2019

Kamis, 26 September 2019

Merasa Banyak Dosa Atau Banyak Amal?

Seorang santri bertanya tentang ungkapan perasaan seorang hamba yang merasa banyak dosa. Hamba tersebut mengharapkan surga, akan tetapi dia merasa tidak pantas untuk mendapatkannya. Dia merasa dirinya lebih pantas di neraka, akan tetapi dia sangat tidak menginginkannya. Lalu, tambah santri tadi, hamba yang seperti itu termasuk contoh orang seperti apa?

Saudaraku, merasa banyak dosa itu sesungguhnya jauh lebih baik dibanding merasa banyak amal. Orang yang merasa banyak amal biasanya akan sombong. Lain halnya dengan orang yang merasa banyak dosa, dia akan memperbanyak tobat.

Namun demikian, penting untuk diingat, kalau kita mersa banyak dosa itu bukan berarti kita harus mengumumkan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Pernah begini, pernah begitu, sudah melakukan ini, sudah melakukan itu, dan lainnya. Jangan! Maksudnya bukan seperti itu, bukan membuka aib diri. Nanti, kita bisa jadi kufur nikmat karena selama ini Alloh Ta'ala telah menutupi dosa dan aib kita. Tobat kita hanya kepada-Nya.

Ketika Alloh Ta'ala menyukai seorang hamba, hati hamba itu akan dibukakan oleh Alloh untuk melihat dosanya yang besar. Dia seolah-olah melihat gunung yang akan jatuh menimpanya. Dia merasa sangat terancam dengan dosanya sehingga dia sangat sedih dan banyak bertobat.

Dia pun menjadi sangat sulit untuk sombong. Dia terus berharap ampunan dan rahmat Alloh Ta'ala. Namun, terhadap orang lain, Alloh justru membukakan hati mereka untuk melihat kemuliaan amalnya. Aib dan dosanya ditutup oleh Alloh Ta'ala. Orang semacam inilah yang termasuk orang beruntung.

Berbeda dengan orang celaka, dia tidak mampu melihat atau menyadari dosanya sendiri. Dia merasa suci, mulia, dan calon ahli surga. Dia merasa saleh sendiri. Padahal, terhadap orang lain, Alloh Ta'ala membukakan hati mereka untuk melihat aib dan kekurangannya. Orang semacam ini melihat dosanya bagaikan melihat lalat yang dianggap remeh. Dia cenderung ujub dan takabur pada amalnya. Inilah bahaya terbesar dalam hidup. Dia tidak sadar kalau hidup penuh dengan dosa.

Adakah di antara saudara yang membaca tulisan ini yang merasa tidak memiliki dosa atau merasa dosanya baru sedikit? Marilah kita bertobat. Persoalan terbesar dalam hidup ini adalah ketika memiliki banyak dosa, tetapi tidak merasa terancam dan tidak pula sanggup bertobat.

"Wahai Tuhanku! aku bukanlah orang yang pantas masuk surga, tetapi aku juga tidak mampu menahan panasnya api neraka. Maka terimalah tobatku, dan ampunilah dosa-dosaku. Karena hanya Engkau-lah yang dapat memberi maaf atas dosa-dosa yang besar."

"Dosaku bagaikan bilangan pasir, terimalah tobatku wahai Tuhanku yang memiliki keagungan. Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya."

"wahai Tuhanku, hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan mengakui seluruh dosa, dan telah memohon kepada-Mu. Seandainya engkau mengampuni, memang Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau Menolak, kepada siapa lagi aku berharap selain kepada-Mu?" (Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami)

Sumber: 

Buku Ikhtiar Meraih Ridha Alloh Jilid 1 karangan Abdullah Gymnastiar.

Rabu, 04 September 2019

Tawadhu

Orang yang tawadhu adalah orang yang senang dalam mencari ilmu, hikmah, dan juga pengalaman. Sedangkan orang yang sombong adalah orang yang selalu mendustakan segala kebenaran yang ada.

"Dan sesungguhnya Alloh mewahyukan padaku (Rasululloh Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam) untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain."
(HR. Muslim No 2865)

Oleh karena itu marilah sahabat, kita miliki sikap tawadhu dalam hidup kita. Dan semoga dengan sikap tawadhu kita, Alloh mendatangkan rahmat dan juga cintanya kepada kita semua, Aamiin Ya Robbal alamin.....

KH. Abdullah Gymnastiar 
3 September 2019

Minggu, 01 Juli 2018

Karakter Utama Orang Beriman

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah sahabatku ingin tahu kan karakter utama orang beriman itu?

Berjalan di muka bumi ini dengan penuh percaya diri.

Sama sekali tidak sombong.

Sangat rendah hati.

Sangat yaqin pertolongan Allah.

Optimis luar biasa.

Murah senyum.

Dermawan.

Membalas yang menghinanya dengan doa.

Hobbynya begadang malam dengan lama sujud dan berdiri di hadapan Allah.

SubhanAllah simaklah Kalam Allah ini dengan IMAN,

‎وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى 
‎الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا (٦٣)
 وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (٦٤)

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih[2] itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam,”
dan orang-orang beriman itu menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri di hadapan Allah”
(QS Al Furqon 63-64).
Allahumma ya Allah hiasilah hidup kami dengan kesenangan ibadah dan kemuliaan akhlak, aamiin...

K. H. Muhammad Arifin Ilham 
30 Juni 2018

Selasa, 04 Oktober 2016

Bahaya Bangga Diri

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 

SubhanAllah sahabatku, sehebat apapun maksiat seseorang selama hidupnya, masih ada peluang hidayah (petunjuk) Allah. Sebaliknya, sealim apapun seseorang selama hidupnya, masih ada peluang kufur nikmat. 


Karena itulah Allah melarang kita untuk tidak sekali kali merasa PALING SUCI.

Simaklah Kalam Allah ini dengan iman,
"Janganlah kalian sekali-kali merasa diri kalian paling suci, sungguh hanya Allah yang paling mengetahui siapa yang paling bertaqwa..." (QS An Najm 32).
Dan Rasulullah pun mengingatkan akan bahaya bangga diri dengan mengulangi tiga kali, yang paling kutakuti pada kalian "al ujba, al ujba, al ujba", dan nasehat Rasulullah ini justru ditujukan pada para sahabat yang sholeh-sholeh.

Tentu larangan Allah ini kepada hamba yang bertaqwa karena sayangnya Allah kepada mereka, agar tidak "ge er" sombong karena ketaqwaannya, agar tetap ISTIQOMAH TAAT, dan agar tetap TAWADHU, rendah hati pada makhlukNya, SubhanAllah.

Rasulullah melarang seorang Muslim mencaci maki mereka yang berbuat maksiat. Mengapa? “Siapa tahu kemudian mereka malah meraih hidayah Allah, lalu bertaubat sungguh-sungguh. Dan juga tidak sedikit yang tadi alim kemudian tergoda malah akhirnya paling rajin bermaksiat, naudzubillah min dzaalika".

Sungguh sahabat sholehku, seorang mu'min yang mengenal Allah itu sangat mencintai Allah dan mahklukNya. Ia pun sangat senang menghinakan dirinya di hadapan Robb nya dengan LAMA SUJUD dalam munajat di penghujung malamnya. Buahnya pun ia belas kasih, sayang, cinta, dermawan dan rendah hati pada makhlukNya.

“Sungguh kegelapan tidak akan terang dengan caci maki. Bawakan lentera dakwah dengan kasih sayang, kesabaran, kalimat hikmah dan keteladanan".

"Dan ketahuilah bahwa tidak pernah ada gelap mengalahkan yang terang. Hanya soal waktu. Karena itulah "tawashaw bilhaqqi" (terus-menerus berpesan tentang kebenaran) diikuti dengan "tawashaw bishshabri" (terus-menerus berpesan tentang kesabaran).


INGAT! BATU PECAH BUKAN KARENA PUKULAN KESERIBU KALINYA, TETAPI KARENA TERUS MENERUS DIPUKUL, MAKA SETIAP PUKULAN ANDIL MEMECAHKAN KERAS BATU ITU. Begitulah da'wah sahabatku.

Karena itulah teruslah istiqomah taat kepada Allah dengan menghidup sunnah-sunnah nabiNya, rendahkanlah hati ini, jangan pesimis, jangan sinis, dan jangan sekali-kali memvonis siapapun. KEWAJIBAN KITA BERIBADAH DAN BERDA'WAH, tetapi tidak wajib hasil, hidayah adalah haq Allah, sahabatku. 
 
Allhuuma ya Allah tancapkan di hati kami keindahan iman,
fahamkan kami kebenaran dan kemuliaan agamaMu,
berilah hikmah Alqur'an dan As Sunnah nabiMu,
Hiasilah hidup kami dengan kesenangan ibadah dan ketawdhuan, aamiin, aamiin, aamiin.
 
Foto abang bersama sahabat kita mountainer dengan tato dan antingnya. Abang ajak mereka sholat berjamaah, dan tawshiyah singkat di shop mereka. Abang sayang mereka karena Allah.

Sahabat da'wahmu Muhammad arifin ilham.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
3 Oktober 2016

Diperbarui 16 Januari 2016

Minggu, 08 Maret 2015

Sifat Rendah Hati

SUBHANALLAH sahabat sholehku, memang rendah hati hormat kepada guru, pada orang tua, pada kakak, dan itu sebuah kewajaran dalam kebaikan akhlak, tetapi hakikat rendah hati sebenarnya adalah ta'kala engkau sayang, akrab, duduk, makan bersama dengan orang-orang yang papa, pembantu, tukang, supir, bersahabat tanpa jarak bersama mereka. Dan boleh jadi mereka lebih mulia dari kita, boleh jadi yang mencium tangan lebih mulia dari yang dicium. 'kan yang paling tahu siapa kita hanya Allah, begini begitu karena aib kita masih ditutupi Allah kan?! Coba kalau Allah buka, pasti hina semua kita.
Baca Kalam Allah, 
"Sesungguh yang paling mulia diantara kalian adalah siapa yang paling taqwa di sisi Allah" (QS Al Hujarat 13). 

Rasulullah bersabda, “Siapa yang bersikap rendah hati, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, dan siapa yang bersikap sombong, maka Allah akan merendahkan derajatnya hingga derajat yang paling hina” (HR Ibnu Majah). 

Karena itu jangan sekali-kali sombong, 
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong...” (QS Al Isra 37).

So "SUNGGUH HAMBA ALLAH YANG SELALU MENGHINAKAN DIRINYA DI PENGHUJUNG MALAM DENGAN BANYAK DAN LAMA SUJUD DIHADAPANNYA, PASTI BUAHNYA SANGAT RENDAH HATI KEPADA MAHLUK ALLAH"

Allahumma ya Allah hiasilah diri hamba dengan kesenangan ibadah kepadaMu dan sifat rendah hati pada mahlukMu...aamiin. 

K. H. Muhammad Arifin Ilham
7 Maret 2015

Selasa, 17 Juni 2014

Ga Boleh Sombong

Saya seneng belajar malam ini dari pelajaran kehidupan.
Saya malam ini atas izin Allah ga bisa liat debat capres. Ga apa-apa dah. Nanti debat sendiri aja.


I've mendaratted di Bandara Soetta. Alhamdulillaah. Makasih kawan-kawan Medan...
Di pesawat saya sederet sama orang yang baiiiikk... ramaaaahhh... bapak-bapak. Kami ngobrol-ngobrol... renyah. serasa kawan lama. Pas turun, pas misah, bapak tersebut nanya, "Maaf Pak, kalo boleh tau, siapa nama Bapak?" Subhaanallaah... Bumi Allah luas. Saya pikir, dah ngobrol sana sini, karena kenal. Udah geer aja, ha ha ha. Ternyata karena emang beliau ramah dan baik. Ternyata beliau ga kenal saya sama sekali. Pantesan dari tadi bingung ngeliat orang pada salaman dan senyum sama saya.


Saya musti belajar lagi tentang Allah. Segitu Maha Kuasa, Besar, dan bisa membuat seisi bumi-Nya bukan hanya mengenal-Nya...

Ya, segitu Maha Segalanya Allah, tapi toh banyak manusia juga yang tidak mengenal-Nya. 

Padahal...

Padahal Allah Sanggup sekali membuat manusia sujud kepada-Nya. Tapi itu tidak dilakukan-Nya.


Akhirnya saya bertambah, alhamdulillaah, mengenal diri saya, bahwa saya bukan siapa-siapa. Apalagi di hadapan Allah. Dan ga apa-apa pula ga dikenal di dunia ini. Asal Yang Punya Dunia, yakni Allah, mengenal saya, dan kita semua. Salam.


Saya masih di jalan. Belum nyampe rumah. Alhamdulillaah. Buat yang nonton, dan yang ditonton... Jangan ampe sombong yaaa...


Saya udah sombong. Sedikit banyaknya, walo ga dominan, dah merasa orang kenal semua. Alhamdulillaah dapet pelajaran kehidupan. Jujur, saya paling takut kalo dah jadi orang sombong. Doain yaaa... Sebab sombong itu Pakaian Allah. Sedangkan Allah pun ga memakainya.


Jika sedikiiiittt aja kita "merasa", maka bisa jadi kita udah ada bibit penyakit sombong. Sombong alus. Betapapun keliatannya rendah hati.


Sebab Allah tau lipatan hati...


Kalo berkenan, liat QS. Al Israa (17), ayat 37. Langsung aja ke TKP.


Ustadz Yusuf Mansur
15 Juni 2014

Minggu, 09 Maret 2014

Terus Menerus Memperbaiki Diri Sendiri

Jangan nyepelein "yang diragukan". Banyak yang terhenyak dengan kemajuan si yang diragukan itu. Sebab yang meragukan berhenti berkembang. Yang diragukan, berkembang terus.
Jangan nyepelein "yang dihina", yang sering dimaki-maki, disumpah serapahi, diusir. Banyak cerita dan kejadian, mereka lebih hebat. Sebab semua itu jadi bahan bakar untuk maju.
Yang paling penting, jangan suka nyepelein orang, maki-maki, ngehina dan ngejelek-jelekin. Mending pake waktu dan energi untuk terus bebenah diri.

Daripada waktu habis terus untuk mengumpat, mending pake waktu untuk bebenah. Tar yang diledek dihina diumpat terus bebenah, qt malah ngabisin waktu sia-sia.

Sebaliknya, klo dihina, diledek, diremehin, jangan meratap. Apalagi sampe nyari tiang atawa pohon. Muter-muter sambil nyanyi. He he, kayak film India.

Klo dihina, diledek, diumpat, direndahin, diremehin, jalan aja terus. Jangan sampe ikut habis juga waktu untuk dengerin dan ngerasain kelewat dalam. Jalan aja terus.

Pastiin aja qt dah bener. Minimal di track yang bener. Kurang-kurang dikit, juga kurang-kurang banyak, ya itu tadi. Jalan dan belajar aja terus. Terima segala rasa sakit dengan ikhlas dan yang ga kalah pentingnya, jika harus terus jalan, dan jadi yang terbaik, bukan karena pengen ngebuktiin qt bisa, qt ga pantes diremehin. Tar malah jadi sombong.

Harus tetep ikhlas. Misalnya, lebih karena emang harus jadi orang maju, sukses, jaya, penuh manfaat, mengolah dan memanfaatkan semua potensi karunia Allah.

Klo emang harus ngebuktiin, buktiin ke Allah aja. Supaya ga jadi sombong.

Saya kasih contoh dikit...

Ada orang, selalu dianggap sebelah mata, ga dianggap, bahkan ampe terusir. Dia harus terus bergerak. Hingga akhirnya maju. Tapi jangan ada dendam dan amarah.
Bukannya apa-apa. Bila dia berhasil, lalu pulang kampung dengan keberhasilannya, dan dia pengen diliat sakses dan berhasil, supaya ga diremehin... -->... maka pada saat itu, dia gantian jadi ngeremehin, ngerendahin, semua orang yang dulu ngeremehin dan ngerendahin dia. Ini ga bagus sama sekali.

Bisa dipahami?


Ustadz Yusuf Mansur
7 Maret 2014

Selasa, 14 Januari 2014

Mawas Diri

Iblis jatuh jadi makhluk terkutuk karena sombong merasa diri paling baik, paling benar dan lupa diri.

Nabi Adam jatuh karena panjang angan-angan ingin kekal dengan memakan buah terlarang, hingga lupa tujuan hidup.

Mari kita berhati hati terhadap kesombongan diri, lupa diri dan terpedaya oleh panjang angan-angan yang melalaikan.

KH. Abdullah Gymnastiar
10 Januari 2014

Senin, 01 Juli 2013

Dunia Ga Seru Kalo Cuma Sewarna

Banyak orang merasa hebat, merasa tahu, sehingga ia mengejek, menghina, menilai dan mencandai orang lain. Kasian. Jangan sampe qt seperti ini.

Lebih baik merasa ga tau apa-apa tentang seseorang. Sehingga sibuk menilai diri sendiri. Ga mandang remeh orang, ga menghina orang, dan bawaannya jadi positif terus.

Dan buat kawan-kawan yang merasa digituin sama orang, jangan sebel sama dia. Justru kudu kasian. Jiwanya sakit. Labil. Ga ada ngaruhnya buat qt. Doakan dia.

Ga seneng ngeliat orang lain seneng?
Seneng ngeliat orang lain menderita?
Hati-hati. Itu sebagian tanda jiwa yang sakit.

Ada orang yang ga suka ngomongin orang, dan ga ikut-ikutan nyebar aib orang. Tapi dia suka ngintip omongan orang tentang yang lainnya. Ini sama jeleknya. Putusin semua aktifitas yang membuat qt sibuk menilai orang lain, mencemoohi tindakan orang lain, mencibiri apa yang dilakukan orang lain. Stop.

Sedang, di balik keburukan orang lain saja, ada kebaikan. Disitulah lahan qt untuk memperbaiki, minimal mendoakan. Berupayalah selalu positif jadi orang. Tapi boleh juga sih jadi mbaksitif, atau kasitif. Kalo po-sitif, betawi ya? He he he. MasSitif? Jawa, he he...

Nanti repot kalo selalu mandang orang jelek, hina, rendah, bloon. Cuma qt dong yang bener, bagus, tinggi, pinter. Jangan. Itu sombong namanya.

Sungguh berbahagia orang-orang yang berhati bersih. Yang bawaannya positif sama orang lain. Selalu bersahabat, menyenangkan dalam berkawan...

So, jika qt disakitin, yang ada jangan balik sebel sebab sakit. Yang ada justru kudu kasian sama yang nyakitin. Dunia terlalu indah, kalo ampe sakit hati sebab kelakuan dan perkataan orang. Bila hati seluas samudera, maka bisa dah kita belayar... Ga nyambung ya? Nyambung ah, he he... Bila hati seluas samudera, badannya segede apa?

Dunia itu pasti berwarna. Ga seru kalo cuma sewarna. Zebra yang keliatannya sama, tetap beda. Ada yang cross kan? He he he...

Rendahkan hatimu, maka dunia akan meninggikanmu. Tinggikan hatimu, maka dunia akan merendahkanmu. Apalagi di hadapan Yang Maha Tinggi.

Perbanyak shalawat ya... Dah masuk malam Jum'at. Istimewa. Sampe Jum'at maghrib. +alKahfi. Yaasiin jangan ditinggal. Sip dah. Doa yang banyak ya.

Ustadz Yusuf Mansur
20 Juni 2013

Kamis, 21 Maret 2013

Ujian

Kalo soal sombong, turun dari angkot juga bisa sombong. Semua persoalan hati. Buanyak orang kaya, yang ga bermegah-megahan. Liat peta para nabi... Dari yang paling melarat, sampe contoh yang paling kaya, ada. Sahabat-sahabat Nabi juga gitu. Role modelnya ada semua.

Orang kaya pun tetap ada ujiannya. Sebagaimana orang miskin, ya ada ujiannya juga. Berputar. Kudu siap di semua keadaan. Miskin, ga siap. Sama parahnya dengan kaya, ga siap.

Sekarang miskin? Emang ga bakal diuji dengan kekayaan? Ga minta juga, kalo dah waktunya ujian kaya datang, itu hak Allah juga.
Sekarang kaya? Emang ga bakal ada ujian miskin? Ujian susah? Emang susah itu haknya orang miskin aja? Ga juga. Siap kaya, siap miskin. Enteng.

Kaya miskin, tetep shalat, sedekah. Kaya miskin, tetep sabar, taat, tawadhu', ga sombong.

Ustadz Yusuf Mansur
10 Maret 2013

Senin, 14 Mei 2012

Penyebab Mudah Marah

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.  

Mengapa mudah ∂ɑπ selalu marah-marah?  

Karena,  
1.Sombong,

2. Selalu merasa benar,

3. Kompensasi dari kelemahan diri, kekecewaan, gagalnya sebuah harapan apalagi Ɣªήğ hampir diraih, masa lalu Ɣªήğ kelabu,

4. Nafsu Ɣªήğ terpuaskan hanya dengan marah,

5. Pencinta berat dunia,

6. Dendam,

7. Dengki,"orang lain sukses kok malah marah-marah",

8. Bersemainya syetan pada aliran darahnya, seperti api Ɣªήğ mudah menyambar,

9. Pikiran pendek,”Inginkah melihat orang gila?”, ”Lihatlah orang terbakar marah, orang Ɣªήğ dicintainya pun disiksanya!”.

InsyaAllah kan dilanjutkan tentang cara menahan marah sampai kedudukan hamba-hamba Ɣªήğ sabar... hem sabar ya sahabatku, aku rehat dulu, jangan lupa berdoa, berzikir, berwudhu ∂ɑπ berniat sholat malam sebelum tidur...

K. H. Muhammad Arifin Ilham 
1 Mei 2012

Jaga Iman dan Akhlak

 Sahabatku iman yang paling baik adalah akhlak Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ ...