Tampilkan postingan dengan label rezeki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rezeki. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 November 2021

Empat Ciri Diterimanya Tobat

Jika merujuk pendapat Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, ciri-ciri orang yang tobatnya diterima itu ada empat. Pertama, cara bicaranya lebih terjaga karena hatinya bersih dan peka. Kebersihan dan kepekaan itu menghidupkan hati dan memandu tutur kata sehingga dia tidak berani untuk berkata kasar, jorok, sombong, berbohong, dan sebagainya. Hatinya akan terus mengingatkan.

Kedua, tidak ada dengki terhadap orang beriman. Tidak ada rasa persaingan terhadap saudara yang beriman. Dia sadar bahwa semua karunia itu Allah Ta'ala yang memberi. Dengki kepada orang beriman sama artinya tidak suka dengan perbuatan dan kehendak Allah.
Terserah Allah ingin memberi kepintaran, kecantikan, kesehatan, rezeki, pangkat atau Jabatan kepada orang beriman lainnya. Dia akan senang dengan apapun yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman. Bukan sebaliknya. seperti SMS (susah melihat orang senang senang melihat orang susah). Saat teman naik haji, dia malah naik tensi.


Ketiga, senang pada lingkungan yang baik. Hati Yang bersih dan peka akan mencari semacam frekuensi yang baik dari lingkungan sekitar. Misalkan ketika bertemu orang lain, hati kecilnya dapat merasakan nyaman atau tidaknya bersama orang itu.
Hati bersihnya dapat merasa jika ada yang sombong, kasar, banyak bicara, atau yang suka keluyuran, nongkrong tidak jelas, dan sebagainya yang membuat hidup lelah dan tidak bermanfaat. Dia pun cenderung menghindari lingkungan-lingkungan yang tidak baik. Kelembutan hatinya membuat dia pun sulit untuk ikut menertawakan kekurangan orang lain.
Dia sangat suka berteman dengan orang yang akhlaknya baik atau hatinya bersih. Hatinya tidak nyaman terhadap hal-hal yang duniawi semata. Dia tetap bergaul akan tetapi kepekaan hatinya membuatnya sangat hati-hati dalam pergaulan.
Namun demikian, bukan berarti dia berniat berburuk sangka (suudzon) kepada orang lain. Hal ini karena setiap orang memancarkan semacam frekuensi. Adapun kepekaan hati orang yang taubatnya diterima bisa dengan mudah menangkap frekuensi itu, untuk kemudian mengarahkannya pada lingkungan yang baik.


Keempat, dia tidak pernah berhenti bertobat. Orang yang taubatnya diterima tidak memiliki istilah, misalnya, sedang Iibur atau cuti bertobat. Dia tidak merasa sudah diampuni dosa-dosanya, lalu merencanakan perbuatan dosa yang baru dan menentukan waktu untuk bertobat kembali.
Orang yang taubatnya diterima akan terus-menerus bertobat. Dari waktu ke waktu shalat fardhu, seolah-olah di depannya ada aliran sungai yang menyejukkan. Karena shalat fardhu itu benar-benar menggugurkan dosa, bahkan jatuhnya air wudhu saja sudah menggugurkan. Begitu dalam satu minggu. Dia sangat menantikan datangnya hari Jumat yang istimewa itu. Dia pun berharap umurnya bisa sampai pada Ramadhan tahun depan.
Demikianlah, orang yang tobatnya diterima itu sadar kalau sifat manusia senang berbuat dosa. Hatinya yang bersih, peka dan Iembut terus berupaya menghindarkannya dari segala hal yang tidak baik. Dia menikmati betapa nyaman dan bahagia hidup bersama Pencipta, Pemilik dan Penguasa Kehidupan, Allah Ta'ala.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang melazimkan istighfar, niscaya Allah Ta'ala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan kesedihan, serta melapangkannya dari setiap kesempitan dan akan mengaruniakan kepadanya rezeki dari jalan yang tidak terduga.”
HR. Abu Daud


K.H. Abdullah Gymnastiar
30 Oktober 2021

Kamis, 21 Oktober 2021

Meneladani AI-'Afuww Allah Yang Maha Pemaaf

Memupuk Jiwa Pemaaf

Seseorang yang mengaku beriman, idealnya tidak sekadar meminta maaf kepada Allah. Lebih jauh lagi, dia pun dituntut untuk meneladani sifat Al-Afuww dengan menginternalisasikan sifat tersebut dalam dirinya. Sebab, Rasulullah SAW telah berjanji, “Ada tiga hal yang jika seseorang melakukannya Allah akan menempatkannya dalam naungan-Nya, mencurahkan rahmat-Nya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya: (1) jika diberi rezeki, dia bersyukur; (2) jika mampu membalas, dia bisa memberi maaf, dan ( 3) jika marah, dia bisa menahan diri.” HR. Hakim

Memang, tidak bisa dipungkiri, ketika dizalimi orang lain, kita akan merasakan sakit hati sehingga tidak jarang sakit hati tersebut berujung pada kedendaman. Dengan meneladani Al-Afuww, kita dituntut untuk membuang jauh kedendaman tersebut. Bahkan sebaliknya, kita mendoakan orang-orang yang menzalimi itu agar bertobat dan menjadi orang saleh. Hal ini sangat menarik, sebab doa orang yang terzalimi itu sangat mustajab. Ketika kita terzalimi, saat itu peluang diijabahnya doa kita terbuka lebar. Sulit memang, akan tetapi itulah penentu kemuliaan diri.

Rasulullah SAW bersabda,
“Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah agar engkau menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiaya dirimu.”

Kita dapat belajar dari Rasulullah SAW. Walau dihina, dicaci maki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tidak sedikit pun beliau mendendam. Beliau tetap saja berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya beliau memaafkan. Beliau adalah ”Tangan Allah” yang paling utama.

Sebuah hadis dari Abu Hurairah mengungkapkan,
“Pada hari Kiamat akan terdengar suara keras, ”Pada hari ini tidak ada seorang pun yang boleh berdiri, kecuali yang menjadi tangan Allah'.” Orang-orang berkata, “Maha Suci Allah, memiliki tangankah Allah?” Mereka mengatakan hal itu berkali-kali. Lalu beliau menjawab, “Benar, barang siapa memberi maaf sewaktu dalam kondisi mampu membalas, dialah tangan Allah.” 
HR Ad-Dailami

Guna menumbuhsuburkan jiwa pemaaf, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita hadirkan dalam diri, yaitu:
Pertama, menyadari bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Allah Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya, orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (Allah ). . .”.
 (QS Al-Hujurat, 49:10). Pemahaman bahwa setiap orang bersaudara, sedikit banyak, akan membawa tambahan energi bagi kita dalam mengendalikan kemarahan dan rasa sakit hati.

Kedua, berlatih untuk mengikis kedendaman dan sikap tidak mau memaafkan. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batu bata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Akan tetapi, dia tidak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, akan tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan. Begitu pula dengan hati; apabila dibiarkan sensitif, hati kita akan mudah terluka. Namun, ketika hati Sering dilatih, dia akan lebih siap menghadapi pukulan dari berbagai arah.

Ketiga, tidak memfokuskan perhatian terhadap hal-hal yang menyakitkan hati. Kalau disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, akan tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal dari Allah. Kita akan semakin sakit, apabila melihat dan mengingat orang yang bersangkutan.

Dengan memiliki jiwa pemaaf, Allah Al Afuww akan memuliakan kita. Maka, balaslah keburukan orang lain, dengan cara terbaik; Ifda' billati hiya ahsan. Itulah kunci kemuliaan diri yang akan melahirkan aneka keajaiban dalam hidup.

K.H. Abdullah Gymnastiar
19 Oktober 2021

Senin, 20 Januari 2020

Empat Ciri Diterimanya Tobat

Jika merujuk pendapat Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, ciri-ciri orang yang tobatnya diterima itu ada empat. Pertama, cara bicaranya lebih terjaga karena hatinya bersih dan peka. Kebersihan dan kepekaan itu menghidupkan hati dan memandu tutur kata sehingga dia tidak berani untuk berkata kasar, jorok, sombong, berbohong, dan sebagainya. Hatinya akan terus mengingatkan. 

Kedua, tidak ada dengki terhadap orang beriman. Tidak ada rasa persaingan terhadap saudara yang beriman. Dia sadar bahwa semua karunia itu Allah Ta'ala yang memberi. Dengki kepada orang beriman sama artinya tidak suka dengan perbuatan dan kehendak Allah. 

Terserah Allah ingin memberi kepintaran, kecantikan, kesehatan, rezeki, pangkat atau Jabatan kepada orang beriman lainnya. Dia akan senang dengan apapun yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman. Bukan sebaliknya. seperti SMS (susah melihat orang senang senang melihat orang susah). Saat teman naik haji, dia malah naik tensi. 

Ketiga, senang pada lingkungan yang baik. Hati Yang bersih dan peka akan mencari semacam frekuensi yang baik dari lingkungan sekitar. Misalkan ketika bertemu orang lain, hati kecilnya dapat merasakan nyaman atau tidaknya bersama orang itu. 

Hati bersihnya dapat merasa jika ada yang sombong, kasar, banyak bicara, atau yang suka keluyuran, nongkrong tidak jelas, dan sebagainya yang membuat hidup lelah dan tidak bermanfaat. Dia pun cenderung menghindari lingkungan-lingkungan yang tidak baik. Kelembutan hatinya membuat dia pun sulit untuk ikut menertawakan kekurangan orang lain. 

Dia sangat suka berteman dengan orang yang akhlaknya baik atau hatinya bersih. Hatinya tidak nyaman terhadap hal-hal yang duniawi semata. Dia tetap bergaul akan tetapi kepekaan hatinya membuatnya sangat hati-hati dalam pergaulan. 

Namun demikian, bukan berarti dia berniat berburuk sangka (su'udzhan) kepada orang lain. Hal ini karena setiap orang memancarkan semacam frekuensi. Adapun kepekaan hati orang yang tobatnya diterima bisa dengan mudah menangkap frekuensi itu, untuk kemudian mengarahkannya pada lingkungan yang baik. 

Keempat, dia tidak pernah berhenti bertobat. Orang yang tobatnya diterima tidak memiliki istilah, misalnya, sedang Iibur atau cuti bertobat. Dia tidak merasa sudah diampuni dosa-dosanya, lalu merencanakan perbuatan dosa yang baru dan menentukan waktu untuk bertobat kembali. 

Orang yang tobatnya diterima akan terus-menerus bertobat. Dari waktu ke waktu salat fardhu, seolah-olah di depannya ada aliran sungai yang menyejukkan. Karena salat fardhu itu benar-benar menggugurkan dosa, bahkan jatuhnya air wudhu saja sudah menggugurkan. Begitu dalam satu minggu. Dia sangat menantikan datangnya hari Jumat yang istimewa itu. Dia pun berharap umurnya bisa sampai pada Ramadan tahun depan. 

Demikianlah, orang yang tobatnya diterima itu sadar kalau sifat manusia senang berbuat dosa. Hatinya yang bersih, peka dan Iembut terus berupaya menghindarkannya dari segala hal yang tidak baik. Dia menikmati betapa nyaman dan bahagia hidup bersama Pencipta, Pemilik dan Penguasa Kehidupan, Allah Ta'ala. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang melazimkan istighfar, niscaya Allah Ta'ala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan kesedihan, serta melapangkannya dari setiap kesempitan dan akan mengaruniakan kepadanya rezeki dari jalan yang tidak terduga.” 
(HR Abu Daud)

KH. Abdullah Gymnastiar 
19 Januari 2020

Kamis, 28 Maret 2019

Zuhud

Sahabatku yang baik, Rasulullah Shallallahu 'alahi Wa Sallam mengajarkan kita agar bisa melakukan amalan zuhud. Zuhud adalah amalan hati yang terdalam, dan hanya Alloh yang bisa menilainya.

Lakukanlah 3 amalan zuhud ini, agar senantiasa dicintai oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala :

1. Lebih meyakini bahwa rezeki yang ada, berada pada genggaman Alloh daripada meyakini apa yang ada ditangannya.

2. Apabila tertimpa musibah, maka hamba tersebut lebih mengharapkan ganjaran pahala atas musibah yang dialaminya.

3. Senantiasa memandang orang lain sama, baik orang yang memujinya maupun orang yang mencelanya, disaat dirinya berada di atas kebenaran.

Mari sahabat, kita mulai untuk sama-sama mengevaluasi hati kita, agar hati ini bisa senantiasa dicintai Alloh dan juga dicintai manusia. Dan semoga Alloh senantiasa menggolongkan kita menjadi orang-orang yang zuhud pada dunia dan juga zuhud pada apa yang ada disisi manusia. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin

KH. Abdullah Gymnastiar 
27 Maret 2019

Minggu, 22 Oktober 2017

3 Jenis Rejeki


Rizki secara umum dibagi 3 :

1. Rizki yang dijamin.
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata [Lauh Mahfuzh].”QS. Huud ayat 6.

2. Rizki yang digantungkan.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka,”QS. Ar-Raad ayat 11.

3. Rizki yang dijanjikan.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [ni’mat] kepadamu, dan jika kamu mengingkari [ni’mat-Ku], maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.QS. Ibrahim ayat 7.

Cara tergampang mendatangkan rizki adalah syukuri rizki yang ada. Jangan pernah takut oleh rizki yang belum ada, tapi takutlah belum mensyukuri rizki yang sudah ada.

KH. Abdullah Gymnastiar
21 Oktober 2017

Sabtu, 21 Oktober 2017

Bergantung Hanya Pada Allah SWT


Solusi tak harus selalu terpikirkan oleh kita,
karena Alloh janji akan mendatangkan pertoolongan / rizki dari tempat yang tak disangka-sangka.

Bila sesuatu terasa mustahil bagi kita, sama sekali tak ada yang mustahil bagi Dia Yang Maha Kuasa atas segala-galanya

Tetaplah berbaik sangka kepadaNya, perbanyak airmata tobat, penuhi dengan zikir dan sempurnakan ketaatan dan ikhtiar dijalan yang disukaiNya..
dan pasrahkan total kepada pertolonganNya.

Tak ada keraguan sama skali, segalanya pasti diketahuiNya, dilihatNya, diperhatikanNya dan tak akan dikecewakanNya…
akan berkah akhirnya insyaalloh..

Firman Allah Ta’ala,

اِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَاِيَّاكَ نَسۡتَعِيۡنُؕ
“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 5)

Dan diriwayatkan dalam hadits:

“Apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Hadits riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jami’ Ash-Shahih

KH. Abdullah Gymnastiar
20 Oktober 2017

Sabtu, 05 Agustus 2017

Istigfar

Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarkaatuh.

SubhanAllah dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir disitu bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”.

Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.
Rasulullah bersabda,

‎“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR Ahmad).

Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa-dosa kami, dan kabulkan hajat kami, aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
4 Agustus 2017

Senin, 22 Agustus 2016

Jangan Meremehkan Perbuatan Baik dan Dosa Sekecil Apapun

Assalaamu alaikum wa rahmatullah wa barkaatuhu.

SubhanAllah walhamdulillah jazaakumullah duhai sahabat sholehku yang mulia yang telah menasehatiku untuk tidak meremehkan perbuatan baik sekecil apapun, dan tidak meremehkan dosa sekecil apapun.

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah...barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa mengganggu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia barangkali itu menjadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI....SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK DIRIMU.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya.”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya) bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum." (HR. Muslim)

Mari Akhiri hari ini dengan Pikiran dan perilaku positif, semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan.. Aamiin...

SubhanAllah abang sayang kalian karena Allah duhai para sahabat FBku walau kita berjauhan, semoga kelak di akhirat, Allah catat kita saling cinta karenaNya, dan Allah pun ridho dengan rahmatNya mengumpulkan kita dalam SyurgaNya...aamiin....



Menjelang fajar di meskid Az Zikra Sentul Bogor.


K. H. Muhammad Arifin Ilham
20 Agustus 2016

Jaga Iman dan Akhlak

 Sahabatku iman yang paling baik adalah akhlak Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ ...