Tampilkan postingan dengan label marah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2021

Meneladani AI-'Afuww Allah Yang Maha Pemaaf

Memupuk Jiwa Pemaaf

Seseorang yang mengaku beriman, idealnya tidak sekadar meminta maaf kepada Allah. Lebih jauh lagi, dia pun dituntut untuk meneladani sifat Al-Afuww dengan menginternalisasikan sifat tersebut dalam dirinya. Sebab, Rasulullah SAW telah berjanji, “Ada tiga hal yang jika seseorang melakukannya Allah akan menempatkannya dalam naungan-Nya, mencurahkan rahmat-Nya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya: (1) jika diberi rezeki, dia bersyukur; (2) jika mampu membalas, dia bisa memberi maaf, dan ( 3) jika marah, dia bisa menahan diri.” HR. Hakim

Memang, tidak bisa dipungkiri, ketika dizalimi orang lain, kita akan merasakan sakit hati sehingga tidak jarang sakit hati tersebut berujung pada kedendaman. Dengan meneladani Al-Afuww, kita dituntut untuk membuang jauh kedendaman tersebut. Bahkan sebaliknya, kita mendoakan orang-orang yang menzalimi itu agar bertobat dan menjadi orang saleh. Hal ini sangat menarik, sebab doa orang yang terzalimi itu sangat mustajab. Ketika kita terzalimi, saat itu peluang diijabahnya doa kita terbuka lebar. Sulit memang, akan tetapi itulah penentu kemuliaan diri.

Rasulullah SAW bersabda,
“Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah agar engkau menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiaya dirimu.”

Kita dapat belajar dari Rasulullah SAW. Walau dihina, dicaci maki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tidak sedikit pun beliau mendendam. Beliau tetap saja berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya beliau memaafkan. Beliau adalah ”Tangan Allah” yang paling utama.

Sebuah hadis dari Abu Hurairah mengungkapkan,
“Pada hari Kiamat akan terdengar suara keras, ”Pada hari ini tidak ada seorang pun yang boleh berdiri, kecuali yang menjadi tangan Allah'.” Orang-orang berkata, “Maha Suci Allah, memiliki tangankah Allah?” Mereka mengatakan hal itu berkali-kali. Lalu beliau menjawab, “Benar, barang siapa memberi maaf sewaktu dalam kondisi mampu membalas, dialah tangan Allah.” 
HR Ad-Dailami

Guna menumbuhsuburkan jiwa pemaaf, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita hadirkan dalam diri, yaitu:
Pertama, menyadari bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Allah Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya, orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (Allah ). . .”.
 (QS Al-Hujurat, 49:10). Pemahaman bahwa setiap orang bersaudara, sedikit banyak, akan membawa tambahan energi bagi kita dalam mengendalikan kemarahan dan rasa sakit hati.

Kedua, berlatih untuk mengikis kedendaman dan sikap tidak mau memaafkan. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batu bata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Akan tetapi, dia tidak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, akan tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan. Begitu pula dengan hati; apabila dibiarkan sensitif, hati kita akan mudah terluka. Namun, ketika hati Sering dilatih, dia akan lebih siap menghadapi pukulan dari berbagai arah.

Ketiga, tidak memfokuskan perhatian terhadap hal-hal yang menyakitkan hati. Kalau disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, akan tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal dari Allah. Kita akan semakin sakit, apabila melihat dan mengingat orang yang bersangkutan.

Dengan memiliki jiwa pemaaf, Allah Al Afuww akan memuliakan kita. Maka, balaslah keburukan orang lain, dengan cara terbaik; Ifda' billati hiya ahsan. Itulah kunci kemuliaan diri yang akan melahirkan aneka keajaiban dalam hidup.

K.H. Abdullah Gymnastiar
19 Oktober 2021

Senin, 23 Desember 2019

Ringan Menerima Takdir

Saudaraku, ada perumpamaan lama. Misalkan, kita sedang berada di dalam sebuah ruangan gelap. Kemudian, tiba-tiba ada seseorang memukul dengan gulungan koran. Kira-kira apakah kita akan marah? 

Secara manusiawi tentunya akan marah. Tetapi, apakah kita tetap emosi ketika lampu dinyalakan dan ternyata yang memukul itu adalah mertua? Dia yang sudah merestui kita menikahi anaknya, ditambah bonus apartemen megah, dua mobil mewah, serta deposito lima milyar. Rasanya kecil kemungkinan orang akan marah. 

Maksudnya, terhadap orang yang berbuat baik kita jarang kecewa, walaupun kadang keinginan orang tersebut tidak sesuai dengan harapan kita. Gulungan koran tidak ada apa-apanya dibanding tumpukan uang milyaran. Itu terasa ringan dibandingkan apartemen, mobil, dan terutama restu untuk menikahi putrinya. 

Nah, itu kepada sesama makhluk. Kalau terhadap makhluk kita bisa begitu, seharusnya kita bisa lebih mampu menerima setiap takdir dari Allah. Dia yang telah menciptakan dan memberi rezeki yang tidak ternilai kepada kita sampai saat ini. 
"Tidak ada satupun musibah yang menimpa di bumi ini maupun pada dirimu, kecuali sudah tertulis di dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak terlalu berduka-cita dengan apa yang Iuput darimu, dan tidak berbangga-bangga diri dengan apa yang Allah berikan padamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri."
(QS. AI-Hadid [57]:22-23). 
Jadi, beratnya cobaan hidup, perih dan getirnya batin ini menghadapi takdir, dikarenakan kita belum yakin bahwa yang menimpakan takdir ini adalah Zat Yang Mahabaik. Dia yang selama ini selalu berbuat baik. Ketika mendapatkan ujian dan tidak menganggap ujian ini datang dengan izin dari-Nya Allah, kita pasti merasa berat. 

Orang-orang yang sering kecewa dalam menjalani hidup adalah orang-orang yang sok tahu dan lebih condong kepada nafsu. Coba lihat para sahabat Nabi SAW. Mereka sudah tidak peduli, apakah hidupnya senang atau susah, dipuji atau dicaci, sehat atau sakit. Mereka sangat paham bahwa di dalam keduanya terdapat kebaikan. 
”Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]:216). 
Jadi. apabila pernikahan kita tiba-tiba batal, yakinlah bahwa itu bukan sebuah keburukan sehingga tidak usah kecewa berkepanjangan. Kalau memang bukan jodoh, pernikahan pasti tidak akan berlangsung. Boleh jadi, Allah Ta'ala ingin mengganti dengan yang lebih baik. Jalani saja. Jika surat undangan sudah terlanjur disebar, maka tinggal membagikan surat tidak jadi diundang. 

Ingin kuliah tidak lulus ujian atau ingin mengabdi di pemerintahan tetapi tidak lolos tes CPNS, bukanlah akhir kehidupan.Yang penting niat mengikutinya benar dan itu sudah menjadi amal saleh. Siapa tahu Allah mempunyai rencana lain untuk kita. Begitu juga bagi yang sakit dan telah berobat ke mana-mana tetapi belum sembuh, ikhtiarnya sudah menjadi amal.

”Seharusnya terasa ringan bala yang menimpa kepadamu karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji kamu. Maka Allah yang menimpakan kepadamu takdir-Nya itu, Dia pula yang telah biasa memberikan kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu. Dialah yang membiasakan engkau merasakan sebaik-baik pilihanNya atau pun pemberiannya.” (AI-Hikam, No.115). 

Apa pun yang sudah terjadi itulah namanya takdir, Tinggal bagaimana kita menerima setiap episode kehidupan, yaitu dengan sabar dan ridha terhadap Suatu takdir akan terasa ringan ketika kita yakin bahwa dia datang atas izin dan dari Allah Yang Maha Tahu segala sesuatu, Yang Maha Baik, dan yang selama ini pun selalu berbuat baik. Dengan hati yang ridha, tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ke episode takdir yang lain. 
“Bolehjadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. ”
(QS. al-Baqarah [2]:216)

KH. Abdullah Gymnastiar
22 Desember 2019

Minggu, 15 Oktober 2017

Biang Yang Merusak Kekhusuan Sholat


Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah hal dianggap biasa padahal inilah biang yang merusak kekhusuan sholat :

1. Berdusta, "Seorang yang berdusta siang harinya maka malamnya tidak akan khusyu sholatnya".

2. Membicarakan aib saudaranya, "Ghibah zhulmatul qolbi, kegelapan hati".

3. Perangai kasar, "ghodbhaan gampang marah lagi kasar membuka lebar jalan syetan untuk masuk".

4. Suka menilai orang lain, "Kuflul qolbi pangkal sombong"

5. Mata menatap aurat yang bukan haqnya, "Penyebab utama dicabut lezatnya ibadah".

6. Tangan menyentuh or menerima yang haram apalagi memakannya, "menjadi energi nafsu ma'shiyat".

7. Banyak bicara, banyak tertawa, banyak berbuat sia-sia, "inilah membuat hati jadi jumud seperti batu".

SubhanAllah bila satu hari saja kita bisa melaluinya tanpa 7 ma'shiyat tersebut, insyaAllah KEINDAHAN dan KENI'MATAN SHOLAT akan kita rasakan pada malam harinya.

Allahumma ya Allah hiasilah hidup kami dengan keni'matan ibadah dan kemuliaan akhlak...aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
14 Oktober 2017

Rabu, 30 November 2016

Cara Mengendalikan Emosi

● Membaca ta`awudz. 
Rasulullah mengajarkannya kepada dua orang sahabat yang saling mencaci, dengan mengatakan, "Sesungguhnya aku akan ajarkan kalian suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilanglah kemarahan kalian, yaitu bacaan A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir-rajiim." (H.R. Bukhari)

● Merubah posisi. 
“Apabila salah seorang diantara kalian marah, sedangkan ia dalam posisi berdiri, hendaklah ia duduk. Jika belum reda, maka hendaklah ia berbaring.” (H.R. Abu Dawud).

● Diam atau tidak berbicara. 
"Apabila kalian marah, maka diamlah". (H.R. Ahmad).

● Berwudhulah. 
"Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu diciptakan dari api, dan api itu bisa padam dengan air, maka apabila marah, berwudlu-lah" (H.R. Ahmad).

● Lakukanlah shalat. 
"Ketahuilah, marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merah kedua matanya dan tegang urat saraf di lehernya? Maka apabila marah, hendaklah ia shalat. (H.R. Tirmidzi)

Aam Amiruddin
28 November 2016

Sabtu, 24 Januari 2015

Pemimpin Zholim

SubhanAllah keadilan adalah diantara buah Rahmatan lilaalamiin, misi terbesar Islam setelah kebenaran, bahasa setiap hati nurani, pilar kedamaian, ketenangan, keamanan, kesejahteraan dan keselamatan. 
 "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat bijak, berbuat baik pada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS 16: 90). Dan ALLAH jatuh cinta pada hambaNya yang berbuat adil (QS Al Muntahanah 8).

Sungguh kemuliaan bagi penegaknya bahkan Rasulullah mengkhabarkan diantara 7 golongan yang dilindungi ALLAH di akhirat kelak, penegak keadilan menempati kedudukan yang pertama.

Ketahuilah! ALLAH melarang keras mereka yang mempermainkan hukum keadilan berdasarkan hawa nafsunya, kebencian atau dendam atau tidak berbuat adil karena cinta, keluarga atau kerabatnya. "Janganlah kalian berbuat zholim karena kebencian kalian..."(QS Al Maidah 8), "Berbuat adillah walau kepada orang terdekat denganmu..."(QS Al An'am 152).
Rakyat negeri tercinta ini menyaksikan lakon para pemimpinnya "main-main dengan keadilan", diamnya rakyat bukan berarti tidak peduli apalagi rakyat jelata yang kadang tidak makan. Tumpukan kekecewaan, marah dan kesedihan bercampur baur yang suatu saat bisa tumpah, untung masih ada iman, masih ada harapan, masih ada pejuang keadilan, masih ada anak bangsa negeri ini yang menangis di keheningan malam mohon kepada Allah untuk keberkahan dan keselamatan negerinya. Sementara hati nurani apalagi iman kepada dahsyatnya Hari Keadilan sudah tidak dipedulikan lagi karena mata hati sudah rabun dengan syahwat dunia. Keadaan ini membuat kita semakin takut kepada Allah karena kezholiman yang diperbuat mengundang azab bala bencana. 
"Jika Kami berkehendak menghancurkan suatu negeri, Kami jadikan para pemimpin yang diamanahi kekuasaan itu berbuat zholim di negeri itu. Akibat perbuatan kezholiman pemimpin mereka, turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS Al-Isra16). 

Allahumma ya ALLAH ajarkan kepada kami agar semakin takut kepadaMU dan takut pada Hari Akhirat yang semua tabir rahasia dibuka...Allahumma ya ALLAH kami rindu pemimpin yang berwibawa, yang sangat takut kepadaMU dan mengajak kami takut kepadaMU...pemimpin yang mengajak kami hidup dalam SyariatMU dan bahagia dalam Sunnah NabiMU. Allahumm ya ALLAH selamat kami dari murkaMU...aamiin. 

Jangan lupa sebelum rehat malam ini berwudhu, berdoa, berzikir sampai tertidur dan berazam untuk sholat malam. Abang sayang kalian sahabatku karena ALLAH.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
23 Januari 2015

Minggu, 31 Agustus 2014

Kesungguhan Iman & Taat

Assalaamu alaikumwa rahmatullaahi wa barkaaatuhu. 

Sahabat sholehku, kita tidak akan pernah bahagia selama kita masih berdusta, suka gosip, buruk sangka, marah, dendam, dengki, riya, bangga diri, menipu, makan yang haram, malas ibadah apalagi hidup dalam ma'siyat. Karena KEBAHAGIAAN itu hanya pada KESUNGGUHAN TAAT. 

Baca dengan iman Kalam Allah ini, 
"Ketahuilah sesungguhnya kekasih-kekasih ALLAH itu, tidak akan takut apa yang akan terjadi dan tidak bersedih apa yang sudah terjadi, karena KESUNGGUHAN IMAN dan KESUNGGUHAN TAAT mereka kepada ALLAH, untuk mereka kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, itu pasti untuk mereka, itulah KEMENANGAN BESAR" (QS Yunus 62 - 64). 
Sahabatku yang ingin bahagia, segeralah bertaubat dan taat sungguh-sungguh. 

"Allahumma ya Allah ampunilah semua dosa-dosa kami, bahagikanlah kami dalam kesenangan ibadah dan taat di JalanMu...aamiin". 

Jangan lupa sholat dhuha, tetap selalu jaga wudhu, hati selalu zikir, senyumlah, dan untuk pria mu'min siapkan diri sholat ke mesjid tanpa terlambat.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
29 Agustus 2014

Rabu, 26 Februari 2014

Kiat Menghadapi Kesulitan

Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Bila sahabatku tiba-tiba dalam kesulitan, maka berusahalah untuk:

1. Tetap tenang, jangan sekali-kali panik apalagi marah-marah, ingat kesulitan tidak selesai dengan penyesalan dan caci maki,

2. Tingkatkan ketakwaan, 
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah tunjukkan jalan keluar baginya dan Allah beri rezeki dari jalan yang tidak terduga." (QS Ath Thalaq: 2-3),

3. Baik sangka pada keputusanNya, semua pasti ada hikmahnya, karena semua diputuskan dengan rahmat, ilmu dan kebijakanNya. "Aku bagaimana prasangka hambaKu" (Hadis Qudsi),

4. Optimis, Insya Allah badai pasti berlalu. Insya Allah di balik kesulitan pasti ada kemudahan,

5. Perhebat istiqfar dan sholawat, di antara dua jalan pembuka dan penolak bala (QS Al Anfal: 33),

6. Diskusikan dengan guru atau hamba Allah yang sholeh,

7. Mohon doa orang tua, guru dan sahabat sholeh,

8. Sedekah sebagai pembuka jalan,

9. Doa sepenuh hati, kekuatan doa merubah takdirNya atas izinNya pula sebagai penghormatan kepada hambaNya yang berdoa kepadaNya,

10.Tawakkal sepenuh hati, 
"Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah menjadi penolongnya" (QS Ath Thalaq 4).

Sungguh, sahabatku. Kalau hati ini rindu denganNya dan surgaNya, maka tidak ada lagi masalah yang besar. Sungguh abang bahagia rehat malam ini setelah menyapa kalian dengan hikmah ini, dan tentu tetap jangan lupa sebelum tidur berwudhu, berdoa, berzikir dan berazam untuk sholat malam.

Allahumma ya Allah tiada yang membuat urusan menjadi mudah kecuali hanya Engkau, mudahkanlah urusan kami...wahai Penguasa atas segala keadaan....aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
24 Februari 2014

Senin, 23 Desember 2013

Belajar Legowo

Agar hati tak jengkel dan larut dalam kemarahan kepada seseorang...Yang melakukan kesalahan ( versi kita ),

segera ingat-ingat jasa-jasa, kebaikan-kebaikannya sebanyak-banyaknya, terutama hal-hal yang membuat diri kita bisa berubah jadi lebih baik.

Dan ingatlah di sisi Alloh setiap kebaikan dilipatgandakan 10 X lipat ganjarannya,
sedangkan kesalahannya hanya dicatat satu dan mudah bagi-Nya untuk mengampuninya dalam sekejap.

Jangan-jangan kita memarahi orang yang disukai Alloh dan yang sudah diampuni kesalahannya.

KH. Abdullah Gymnastiar
6 Desember 2013

Sabtu, 07 Desember 2013

Panggilan Yang Baik

Panggilan buat anak... Yaa Nuuro 'Ainayya... Wahai cahaya mataku... Ta'aal hunaa... Mari sini...

Atau coba jajal panggil... Yaa Mubasysyirol qolbi... Wahai yang menggembirakan hati... Ta'al ilaa hunaa... Mari sini...

Manggilnya jangan dengan panggilan yang macem-macem, sia-sia, apalagi sampe punya arti kaco... "Eh, geblek... Sini Luh...". Jangan. Tar anak beneran geblek.

"Cantiiiikkk... Sini Naaak... Cantik yang salehah... Sini sayang..." Gini nih panggil anak.

Nanti anak akan jawab... "Iyaaa Ibuk cantiiikkk... Yang kecantikannya menerangi seisi rumah..."
Atau anak akan jawab, "Iya ibuk yang salehah, yang dirindukan Rasul saat nanti bertemunya.."

Kalau lagi marah, marahlah seperti ibunya imam Sudais... "Idzhab anta. Ilaa masjidil haroom. Kun imaaman hunaak." Keren banget dah.
Marah aja jadi doa. "Pergi sana ke masjidil harom. Jadi imam sono..." Gitu kata ibunya imam sudais. Umur 24 tahun, imam Sudais jadi imam beneran.

Jangan sampeeee nyebut anak, sebagai anak syetan pas lagi marah... "Anak syetan nih emang...". Dia ga sadar, itu anaknya sendiri. Berarti?

Panggil suami... "Kakanda sayang....". Suaminya jawab, "Iye peyaaaanggg...". Aaaah, payah dah. Istri udah mau bermanja-manja. Jadi berantem, hehe

Sumpahin anak tuh begini yang cakep: "Emak sumpahin kamu 17 turunan ke bawah, kaya-kaya, lagi saleh..." Nah, turunan ke-18 ke atas, sumpahin lagi.

Panggil ustadznya apa? "Ustadz Yusuf yang baik hati, tidak sombong, lagi rajin menabung...?" He he he he...

"Wahai Australia, tetangga kami yang baik hati, yang udah ngasih banyak kemudahan saudara-saudara kami di sana... Wahai Australia yang akhlaknya baik..."
Gitu tuh manggil Australia...
"Wahai Australia, yang sapi-sapinya banyak kami terima di sini..."

Panggil presiden kita, menteri-menterinya, pejabat-pejabat kita, dengan panggilan-panggilan yang baik. Jadi doa buat beliau-beliau. Semoga.

Panggil tetangga: "Eh tetanggaaa... Rapih amat siiiihhh... Mau kemanaaa? Ke pasar?". InsyaaAllah tetangga, bakal gorengin ikan daaah.

Nabi memanggil 'Aisyah, istrinya, dengan panggilan: "Yaa Humaira... Wahai yang pipinya kemerah-merahan..." Dahsyat! InspiringHusband banget.

Coba panggil istri: "Yaa Humaira...". He he, dia bakal sewot... "Siape tuh...? Cewek mana...? Jangan macem-macem yeee..." Hehe, ga ngarti dia...

Rasul emang subhaanallaah dah...
Suatu saat, beliau datang, mencari menantunya... Sayyidinaa 'Ali Karramallaahu wajhah. Yang ada di rumah, hanya Faathimah. Imam 'Ali, ga ada. "Di mana putra pamanku yang kumuliakan...?" Lihat. Beliau menyebut Imam 'Ali begitu. Beliau itu Rasul. Bukan hanya mertua. Tapi begitu sopan dalam memanggil nama atau menyebut nama menantunya. MaasyaaAllah.
Subhaanallaah kan?
Dan Nabipun menyusul. Menyusul Imam 'Ali. Luar biasa. Mertua loh. Rasul lagi. Nyusul menantu. Padahal beliau bisa banget manggil.

Besok cerita-cerita di Istiqlal, tentang ini aja ya? Tentang Nabi, 'Aisyah, Faathimah, dan 'Ali? Keren. Saya suka nangis kalo inget beliau-beliau semua.
"Wahai suamiku, jangan ada yang memandikan aku setelah wafatnya diriku... Kecuali engkau..." Begitu pinta Faathimah, kepada Imam 'Ali. *merinding.
Besok di Istiqlal, saya ceritain yang lebih merindiiiiinggg... Tentang Rasul, Siti 'Aisyah, Siti Faathimah, dan Imam 'Ali.

Ustadz Yusuf Mansur
22 November 2013

Rabu, 22 Mei 2013

Jangan Marah

Agar hati tak jengkel dan larut dalam kemarahan kepada seseorang yang melakukan kesalahan ( versi kita ).

Segera ingat-ingat jasa, kebaikan-kebaikannya
sebanyak-banyaknya, terutama hal-hal yang
membuat diri kita bisa berubah jadi lebih baik.

Dan ingatlah di sisi Alloh setiap,
kebaikan dilipatgandakan 10X lipat
ganjarannya, sedangkan kesalahannya hanya dicatat satu dan mudah bagi-Nya untuk mengampuninya dalam sekejap.

Jangan-jangan kita memarahi orang yang disukai Alloh dan yang sudah diampuni kesalahannya.

KH. Abdullah Gymnastiar
14 Mei 2013

Senin, 25 Februari 2013

Tetap Bersyukur

Kita sering memohon dan berharap petunjuk dari Allah untuk mengarungi hidup ini dengan benar.

Namun mengapa ketika petunjuk itu datang lewat siapa dan cara apa yang dikehendaki-Nya, Kita sering tak mau menerimanya.
Bahkan menghindar dengan seribu satu alasan dan tak jarang menjadi jengkel, melawan dan marah.

Seharusnya terhadap saran, nasehat bahkan kritik sepedas apapun benar-benar kita syukuri, sebagai karunia Allah jawaban atas permohonan kita.

KH. Abdullah Gymnastiar
14 Februari 2013

Rabu, 16 Mei 2012

3 Ranking Hamba Yang Bertaqwa

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

Sahabatku, ada 3 rengking drazat hamba Ɣªήğ bertaqwa itu disisi ALLAH (QS 3:34),
kita mulai dari rengking ke 3 dulu, ”Alkaazhimiinal goizho”, mampu menahan marahnya walaupun mampu ∂ɑπ punya peluang untuk membalasnya,

Rengking ke 2, "Al aafiina aninnaas”, mampu menahan marah ∂ɑπ mampu memaafkan, sayangnya belum mampu melupakannya, kadang-kadang masih ingat.

Sedangkan rengking tertinggi. ”Almuhsiniin”, bukan hanya mampu menahan marah, memaafkan ∂ɑπ melupakan tetapi bahkan mampu ∂ɑπ senang mengajak untuk membuka lembaran baru," Yang lalu Ɣªήğ lalu, mari kita mulai dari Ɣªήğ baru lagi",

SubhanAllah, mulia sekali hamba ini disisi ALLAH, pantaslah ALLAH sangat mencintai hamba Ɣªήğ MUHSINIIN ini. Lantas kita ada pada rengking Ɣªήğ mana,sahabatku?,
"Semoga ALLAH senantiasa memperbaiki keadaan kita dengan HIDAYAHNYA...aamiin".

K. H. Muhammad Arifin Ilham
3 Mei 2012

Senin, 14 Mei 2012

Penyebab Mudah Marah

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.  

Mengapa mudah ∂ɑπ selalu marah-marah?  

Karena,  
1.Sombong,

2. Selalu merasa benar,

3. Kompensasi dari kelemahan diri, kekecewaan, gagalnya sebuah harapan apalagi Ɣªήğ hampir diraih, masa lalu Ɣªήğ kelabu,

4. Nafsu Ɣªήğ terpuaskan hanya dengan marah,

5. Pencinta berat dunia,

6. Dendam,

7. Dengki,"orang lain sukses kok malah marah-marah",

8. Bersemainya syetan pada aliran darahnya, seperti api Ɣªήğ mudah menyambar,

9. Pikiran pendek,”Inginkah melihat orang gila?”, ”Lihatlah orang terbakar marah, orang Ɣªήğ dicintainya pun disiksanya!”.

InsyaAllah kan dilanjutkan tentang cara menahan marah sampai kedudukan hamba-hamba Ɣªήğ sabar... hem sabar ya sahabatku, aku rehat dulu, jangan lupa berdoa, berzikir, berwudhu ∂ɑπ berniat sholat malam sebelum tidur...

K. H. Muhammad Arifin Ilham 
1 Mei 2012

Kamis, 17 Maret 2011

Kiat Menahan Marah

Maaf ustadz, aku tipe orang yang mudah marah, sifat ini menyusahkanku, keluarga dan teman-teman menjauhiku. Bimbing aku ustadz agar tidak pemarah lagi, please?

SubhanAllah sahabatku, insyaAllah pertanyaanmu awal dari kesembuhanmu dari sifat marahmu...aamiin. Inilah diantara cara-cara menahan marah:
  1. Ingat semuanya pasti dibalas di Akhirat,
  2. Lihat akibat marah pasti penyesalan,
  3. Menjauh dari orang yang membuat marah / suasana yang membuat marah,
  4. Segera berwudhu,
  5. Baca "Adzubillahi minasysyaithoonisrajiim" kalau ingin marah atau melihat orang marah
  6. Adukan masalah pada orang sholeh, 
  7. Ingat tidak ada masalah diselesaikan dengan emosi,
  8. Ingat keluarga terutama anak-anak,
  9. Ingat hadiah sabar adalah Syurga dari ALLAH,"Selamat hai penyabar untukmu syurga" (QS Ar Ro'du 24), Rasulullah yang muliapun mengkhabarkan berita gembira untuk hamba yang tidak mudah marah,”Jangan gampang marah untukmu Syurga”, 
  10. Kalau sudah puncaknya menahan marah, hampir tidak kuat maka bertakbirlah kuat-kuat sambil memindahkan posisi diri, kalau duduk berdirilah, kalau berdiri berjalanlah,
  11. Bersahabat dengan sahabat yang teladan dalam kesabaran,   
  12. Bersahabat dan berkumpullah dengan majlis orang-orang yang sholeh, hadir di majlis Ilmu dan zikir, berjamaah di mesjid, 
  13. Sering-sering minta nasehat Ulama yang istiqomah,
  14. Selalu berdoa agar menjadi hamba ALLAH yang sabar dan rendah hati di setiap selesai sholat fardhu, "Allahumma ya ALLAH jadikanlah kami hambaMU yang sabar atas semua ujianMU dan rendah hati...aamiin".
K.H. Muhammad Arifin Ilham
5 Maret 2011
Diperbaharui 27 April 2013

Rabu, 16 Maret 2011

3 Ranking Derajat Orang Bertaqwa

Ada 3 ranking derajat orang bertaqwa (QS 3:34):
 
Mulai dari ke 3,"Alkaazhimiinal goizho", mampu menahan marahnya walaupun mampu dan punya peluang untuk membalasnya.

Ke 2,"Alaafiina aninnaas", mampu menahan marah dan mampu memaafkan.

Ke 1,"Almuhsiniin", bukan hanya mampu menahan marah, memaafkan dan melupakan tetapi bahkan senang mengajak untuk membuka lembaran baru, SubhanAllah...mulia sekali hamba ini disisi ALLAH
Lantas kita ada pada ranking yang mana, sahabatku?

K.H. Muhammad Arifin Ilham
4 Maret 2011

Sumber Kemarahan

Mengapa mudah dan selalu marah-marah?
  1. Sombong,
  2. Selalu merasa benar,
  3. Kompensasi dari kelemahan diri, kekecewaan, gagalnya sebuah harapan apalagi yang hampir diraih, masa lalu yang kelabu,
  4. Nafsu yang terpuaskan hanya dengan marah,
  5. Pencinta berat dunia,
  6. Dendam,
  7. Dengki,
  8. Bersemainya syetan pada aliran darahnya, seperti api yang mudah menyambar,
  9. Pikiran pendek.
"Inginkah melihat orang gila?",
"Lihatlah orang terbakar marah, orang yang dicintainya pun disiksanya!"

K.H. Muhammad Arifin Ilham
3 Maret 2011

Jaga Iman dan Akhlak

 Sahabatku iman yang paling baik adalah akhlak Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ø£َÙƒْÙ…َÙ„ُ المُؤْÙ…ِÙ†ِينَ Ø¥ِيمَانًا Ø£َØ­ْسَÙ†ُÙ‡ُÙ…ْ ...