Tampilkan postingan dengan label takdir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label takdir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Desember 2021

Meyakini Kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau berkata, “Aku melihat tapak kaki kaum musyrikin ketika kami bersembunyi di dalam gua, dan orang-orang tersebut tepat di atas kepala kami. Lalu aku berkata, ‘Ya Rasulullah, andaikata seseorang dari mereka itu melihat ke bawah kakinya maka pasti mereka akan melihat tempat kita ini. ‘ Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ‘ Wahai Abu Bakar, apakah engkau mengira bahwa kita hanya berdua? Allah adalah yang ketiga dari kita ini.”

HR. Imam Bukhari dan Muslim



Nah, saudaraku. Kalau kita misalnya menyebut Allah sebagai “yang ketiga”, seperti pada hadis tersebut, maka jangan membayangkan kita menjadi bertiga dengan Alloh dalam bentuk sebagaimana kita sehari-hari. Karena Allahu Ahad itu bukan berarti angka ‘satu’ dalam bilangan kita.

Kalau angka satu bilangan kita dapat ditemui dari mana saja. Misalnya setengah ditambah setengah, dua dikurang satu, sepertiga dikali tiga atau dua dibagi dua. Satunya kita bisa penjumlahan, pengurangan, pengalian dan pembagian. Tapi Allahu Ahad tidak bisa dari sisi mana pun.

Allahu Ahad berbeda dengan “satu”-nya kita. Maksudnya, Allah tidak harus wujud. Seperti sekarang saudara sedang membaca tulisan ini, Allah pasti hadir dan menyaksikan. Misalkan saat membaca tulisan ini saudara sendirian, maka saudara bisa menyebut Allah sebagai “yang kedua”. Saudara sedang berdua dengan Allah.

Tidak sulit bagi kita meyakini sesuatu yang tidak terlihat. Seperti udara dan gaya gravitasi, kita meyakininya ada meski tidak tampak. Sama dengan elektron, proton, atau listrik juga tidak tampak, mungkin baru terlihat ketika ada yang salah pegang kabel.

Untuk lebih jelasnya, saya akan menyampaikan sebuah kisah yang sudah sering diceritakan. Bagi saudara yang mungkin masih ingat, tidak ada salahnya membaca lagi supaya kita tidak mudah lupa tentang kehadiran Allah.

Suatu ketika ada seseorang yang terpelajar secara duniawi bertanya tiga hal kepada orang-orang. Pertama, tentang bukti kehadiran Allah. Kedua, tentang apa sebetulnya takdir.

ketiga, tentang setan yang dicipta dari api dan dimasukkan ke neraka yang api juga, yang dianggapnya sebagai lelucon.

Setiap orang yang ditanyainya tidak ada yang bisa menjawab. Sampai kemudian ada seseorang yang berkata padanya agar dia pergi menemui seorang alim di sebuah kampung, “Insya Allah, beliau bisa memberi jawaban yang memuaskan Anda.” Tapi orang yang terpelajar duniawi menganggap nasehat itu sebagai lelucon tambahan. “Orang kota saja nggak bisa jawab, apalagi orang kampung.” Katanya. “Dicoba saja dulu,” jawab seseorang tadi meyakinkannya.

Singkat cerita, sampailah dia di kampung dan bertemu orang alim yang dimaksud. Dia langsung bertanya, “Kakek, setiap yang ada itu harus ada buktinya. Kalau Tuhan ada buktinya? Lalu apa itu takdir? Jangan-jangan cuma alasan atau dalih saja karena nggak berani menerima kenyataan. Dan, katanya setan dibuat dari api, tapi mengapa dimasukkan ke neraka yang api juga? kan, api dengan api ngga berasa. Bagaimana, kek?”
Kakek alim berkata, “mendekat kesini, nak.” Plakk…

Orang yang terpelajar duniawi itu ditempeleng. “Kakek! Kalau ngga bisa jawab, jangan emosi dong!” teriaknya kesakitan. “Maafkan saya, nak. Itu bukan menempeleng, tapi itulah jawabannya.” Tapi dia masih tidak terima, “Jawaban bagaimana, kek? Sakit ini!”

“Benar sakit?” tanya kakek. “Sumpah, sakit banget, kek!” Lalu kakek itu bertanya lagi, “engkau yakin sakit itu ada?” “Yakin, kek!” Kakek itu kembali berkata, “Baiklah, kalau benar sakit itu ada, coba tunjukkan atau gambarkan saja seperti apa sakit itu?” Orang yang terpelajar mulai kebingungan, “Ya, pokoknya ada.”

Itulah bukti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu ada, tapi tidak bisa ditunjukkan atau digambarkan tapi bisa dirasakan bagi yang yakin kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Baiklah,” lanjut kakek itu, “Apa sebelum itu engkau pernah bermimpi ditempeleng?” “Tidak,” jawabannya. “Apa engkau merencanakan ditempeleng?” Tanya kakek lagi. “Sama sekali tidak.” Atau, “Mungkin engkau punya cita-cita ditempeleng?” “Amit-amit, nggalah kek.” Maka,”itulah takdir,” jelas kakek alim.

Lalu, “Ini apa?” kakek menunjuk telapak tangannya, “kulit.” Dan, “Di pipimu itu apa?” Kulit,” jawabanya lagi. “Jadi, saat kulit bertemu dengan kulit tadi bagaimana?” “Sakit , Kakek, Ujarnya yang masih kesakitan. Begitulah ketika setan dimasukan ke neraka.

Nah Saudaraku. Kita harus yakin bahwa Allah selalu Hadir, Menyaksikan, Mengawasi dan Menjaga kita. Jangan sampai kita merasa bahwa Alloh tidak ada dan tidak melihat, karena baik kita berbua baik ataupun buruk, Allah Subhanahu Wa ta’ala pasti tahu.

KH. Abdullah Gymnastiar
24 Desember 2021

Jumat, 17 September 2021

Rahasia Agar Ridho Dalam Menerima Takdir

Sahabatku, salah satu kiat agar kita mampu menghadapi persoalan hidup adalah ridha pada apa yang terjadi. Ridha terhadap apa yang akhirnya terjadi atau ridha pada hasil yang akhirnya kita terima setelah usaha yang kita lakukan.

Mengapa kita harus ridha? 
Karena kalau tidak ridha pun kejadian yang sudah terjadi tetap terjadi, hasil yang sudah kita terima tetap kita terima. Contoh sederhananya, kita sedang berjalan tiba-tiba sebuah bola mengenai kening kita cukup keras. Sikap terbaik menghadapi kenyataan seperti ini adalah ridha, karena toh bola sudah mengenai kening kita. “Tanda terima” berupa benjolan bekas lemparan bola sudah ada di kening kita. Jika ada rasa sakit, maka biarkan saja sejenak rasa sakit yang sebentar itu. Tidak perlu menggerutu atau mengutuk keadaan. Lebih baik beristighfar.

Rasulullah SAW bersabda, “Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb-nya dan Islam sebagai agamanya, serta ( Nabi ) Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Sebagaimana isi hadits ini, bersikap ridha akan mendatang kan rasa tentram di dalam batin kita. Sebenarnya, penderitaan yang kita rasakan saat menggerutu dan mengutuk kejadian buruk bukan karena peristiwanya, melainkan karena sikap kita yang tidak ridha pada peristiwa tersebut.

Contoh lainnya yang sering terjadi adalah mengejek atau mencibir keadaan diri sendiri. Ada orang yang mengejek dirinya sendiri hanya karena hidungnya tidak mancung, kulitnya gelap, posturnya pendek, atau terlahir dari keluarga yang tidak kaya raya. Orang-orang seperti ini akhirnya merasakan penderitaan. Penderitaan mereka bukan disebabkan oleh kenyataan, melainkan oleh sikap mereka sendiri terhadap kenyataan. Maka, tidak heran jika orang seperti ini mengalami stres.

Seperti kisah seorang wanita yang sudah melewati usia 30 tahun, kemudian ia pontang panting menghindari gejala penuaan dengan cara operasi plastik. Biaya yang mahal dikejarnya tapi keriput di wajah tetap saja muncul. Dia pun stres. Ini contoh orang yang tidak ridha menghadapi kenyataan dan menyikapinya secara berlebihan. Ia tidak ridha menghadapi kenyataan bahwa muda dan tua adalah sunnatullah yang akan dialami manusia.

Saudaraku, ridha bukanlah pasrah begitu saja. Ridha adalah keterampilan kita untuk realistis menerima kenyataan. Hati menerima, pikiran dan fisik berikhtiar memperbaiki diri sehingga bisa menemui kenyataan yang lebih baik lagi. Jika sakit gigi, bersikaplah ridha dengan menerima bahwa itu ujian dari Allah, sembari kaki melangkah ke dokter gigi sebagai bentuk ikhtiar mengobati dan merawat gigi karena itu adalah titipan Allah Swt. Boleh jadi sakit gigi karena kelalaian kita merawat titipan Allah tersebut.

Oleh karena itu, peristiwa apa pun yang terjadi di dalam hidup kita, marilah kita hadapi dengan ridha: terima dengan lapang dada tanpa berkeluh kesah dan yakini bahwa segala yang terjadi ada dalam kekuasaan Allah Swt. Tidak ada kejadian apa pun yang luput dari pengetahuan dan kekuasaan-Nya. Sekalipun peristiwa tersebut tidak sesuai dengan harapan kita, bahkan cenderung pahit untuk diterima. Ridha adalah sikap terbaik agar ujian tersebut berbuah berkah bagi kita.

Bersikap ridha itu seperti menanak nasi tapi terlalu banyak air sehingga beras yang kita tanak malah menjadi bubur. Menghadapi kenyataan seperti ini maka sikap terbaik kita bukanlah menggerutu atau marah-marah, melainkan bersikaplah ridha sembari mencari daun seledri, kacang kedelai, dan suwiran daging ayam, lalu ditambahi kecap dan kerupuk. Maka, jadilah bubur ayam spesial.

Ridha akan membuat hidup kita lebih nyaman dan lapang. Bukankah kita ingin Allah SWT ridha kepada kita? Jalannya adalah bersikap ridha pada apa pun keputusan-Nya. 
Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang ridha ( pada ketentuan Allah ), maka Allah akan ridha kepadanya.” (HR. Tirmidzi)

KH. Abdullah Gymnastiar
15 September 2021

Jumat, 07 Agustus 2020

Cara Mengenal Al-Haqq

Saudaraku, kali ini saya hendak bercerita mengenai pengalaman ketika menghadiri undangan ceramah di Morotai, Maluku Utara. Saat itu ceramah selesainya di sore hari, dan besoknya tidak ada penerbangan. Sehingga malam harinya harus menggunakan perahu kecil yang ada motornya. Maka diputuskanlah berangkat jam satu malam, karena harus mengejar jam tujuh pagi sampai di suatu tempat.

Ketika menaiki perahu yang sederhana itu bersama beberapa orang, saya mencari pelampung sebagai syaratnya. Ternyata yang ada hanyalah bantalan kursi. Kemudian saya lihat nahkodanya juga tidak memiliki lampu. Tidak punya kompas, dan tidak ada alat komunikasi. Padahal lautnya gelap. Sempat terbayang seandai salah arah, atau perahunya tenggelam dan dimakan hiu.

Tetapi saya tetap berupaya husnudzan. “Mungkin nahkodanya memang pelaut ulung yang bisa melihat dalam kegelapan (maksudnya, mungkin dia berpatokan pada bintang). Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau dalam gelapnya laut ini, dan Engkau Yang Maha tau apa yang akan terjadi.”

Lelah sendiri juga kalau sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Sehingga walaupun mengantuk, tetap berusaha sebisanya untuk sholat daripada tidur. Karena doa itu syariatnya menjadi jalan berubahnya takdir. Jika ada takdir musibah, maka doa dan musibah saling bertarung mana yang lebih kuat dan akan mengalahkan.

Alhamdulillah, setelah sekian jam sampailah di pelabuhan yang dituju. Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih pada pelaut yang luar biasa tadi. Perjalanan tenang dan selamat sampai tujuan. Tapi rupanya tenang itu ada beberapa jenis. Satu, tenang karena zikir, dan kedua, tenang karena tidak tahu.

Beberapa waktu kemarin, setelah kembali ke Daarut Tauhiid, teman-teman mengungkapkan bahwa nahkoda itu ternyata baru pertama kali juga melaut dalam kegelapan. Semua yang di perahu sebetulnya juga takut. Kata nahkodanya, “Saya baru berani kalau yang diantar kiai, Insya Allah selamat.” Rupanya sama-sama husnudzan.

“Ya Allah, Mahabenar dan Mahasuci Engkau yang menyembunyikan ketidaktahuan ini.” Kalau saya mengetahuinya saat itu, bisa bertambah stress. Semakin sibuk berpikir macam-macam. Bagaimana jika ada satu balok kayu yang tidak kelihatan lalu menembus perahu? Bisa langsung karam. Seperti baru terdengar kabar juga kemarin, tentang adanya tamu dari daerah yang sama, yang perahunya tenggelam dan enam orang meninggal. Jadi, ada benarnya juga tidak tahu.

Alhamdulillah, ya Allah. Ketika berada di kegelapan laut, betapa terasa kecilnya diri ini. Begitu jelas jika tidak ada apa-apanya diri kita. Manusia sangat lemah sekali. Seharusnya jika kita bertemu dengan laut, gunung, bahkan ciptaan allah lainnya seperti binatang yang berukuran kecil, maka bertafakurlah.

Misalnya, bertafakur lah ketika melihat burung yang bisa terbang. Jangan malah, “Wah itu ada burung, cari senapan angin.” Rendah sekali diri kita kalau begitu. Nikmatilah bagaimana burung itu terbang atau saat dia menukik tajam, yang tidak jarang hingga di permukaan lalu dengan koordinasi otot dan gerakannya yang menakjubkan kembali naik. Mahabenar dan Mahasuci Engkau ya Allah, karena sehebat - hebatnya penerjun payung kalau sudah menukik tajam berarti selesai.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda kebesaran Kami di segenap penjuru, dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkah bagi kamu bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
QS. al-Fushilat (41):53

Jadi, Saudaraku. Memperbanyak tafakur merupakan cara untuk mengenal Al-Haqq, mengenal Allah dan mengenal kebenaran Al-Quran. Kita harus sering-sering bertafakur. Kalau kita tidak meluangkan waktu untuk bertafakur, maka banyak pelajaran yang terlewat kan. Karena disegenap penjuru, termasuk yang ada pada diri kita sendiri, bisa menjadi bahan bertafakur.

KH. Abdullah Gymnastiar
6 Agustus 2020

Kamis, 06 Agustus 2020

Kehadiran Allah

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau berkata, “Aku melihat tapak kaki kaum musyrikin ketika kami bersembunyi di dalam gua, dan orang-orang tersebut tepat di atas kepala kami. Lalu aku berkata, ‘Ya Rasulullah, adaikata seseorang dari mereka itu melihat ke bawah kakinya maka pasti mereka akan melihat tempat kita ini.‘ Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ‘ Wahai Abu Bakar, apakah engkau mengira bahwa kita hanya berdua? Allah adalah yang ketiga dari kita ini.”

(HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Nah, saudaraku. Kalau kita misalnya menyebut Allah sebagai “yang ketiga”, seperti pada hadis tersebut, maka jangan membayangkan kita menjadi bertiga dengan Alloh dalam bentuk sebagaimana kita sehari-hari. Karena Allahu Ahad itu bukan berarti angka ‘satu’ dalam bilangan kita.

Kalau angka satu bilangan kita dapat ditemui dari mana saja. Misalnya setengah ditambah setengah, dua dikurang satu, sepertiga dikali tiga atau dua dibagi dua. Satunya kita bisa penjumlahan, pengurangan, pengalian dan pembagian. Tapi Allahu Ahad tidak bisa dari sisi manapun.

Allahu Ahad berbeda dengan “satu”-nya kita. Maksudnya, Allah tidak harus wujud. Seperti sekarang saudara sedang membaca tulisan ini, Allah pasti hadir dan menyaksikan. Misalkan saat membaca tulisan ini saudara sendirian, maka saudara bisa menyebut Allah sebagai “yang kedua”. Saudara sedang berdua dengan Allah.

Tidak sulit bagi kita meyakini sesuatu yang tidak terlihat. Seperti udara dan gaya gravitasi, kita meyakininya ada meski tidak tampak. Sama dengan elektron, proton, atau listrik juga tidak tampak, mungkin baru terlihat ketika ada yang salah pegang kabel.

Untuk lebih jelasnya, Aa akan menyampaikan sebuah kisah yang sudah sering diceritakan. Bagi saudara yang mungkin masih ingat, tidak ada salahnya membaca lagi supaya kita tidak mudah lupa tentang kehadiran Allah.

Suatu ketika ada seseorang yang terpelajar secara duniawi bertanya tiga hal kepada orang-orang. Pertama, tentang bukti kehadiran Allah. Kedua, tentang apa sebetulnya takdir. ketiga, tentang setan yang dicipta dari api dan dimasukkan ke neraka yang api juga, yang dianggapnya sebagai lelucon.

Setiap orang yang ditanyainya tidak ada yang bisa menjawab. Sampai kemudian ada seseorang yang berkata padanya agar dia pergi menemui seorang alim di sebuah kampung, “Insya Allah, beliau bisa memberi jawaban yang memuaskan Anda.” Tapi orang yang terpelajar duniawi menganggap nasehat itu sebagai lelucon tambahan. “Orang kota saja nggak bisa jawab, apalagi orang kampung.” Katanya. “Dicoba saja dulu,” jawab seseorang tadi meyakinkannya.

Singkat cerita, sampailah dia di kampung dan bertemu orang alim yang dimaksud. Dia langsung bertanya, “Kakek, setiap yang ada itu harus ada buktinya. Kalau Tuhan ada buktinya? Lalu apa itu takdir? Jangan-jangan cuma alasan atau dalih saja karena nggak berani menerima kenyataan. Dan, katanya setan dibuat dari api, tapi mengapa dimasukkan ke neraka yang api juga? kan, api dengan api ngga berasa. Bagaimana, kek?”

Kakek alim berkata, “mendekat kesini, nak.” Plakk…
Orang yang terpelajar duniawi itu ditempeleng. “Kakek! Kalau ngga bisa jawab, jangan emosi dong!” teriaknya kesakitan. “Maafkan saya, nak. Itu bukan menempeleng, tapi itulah jawabannya.” Tapi dia masih tidak terima, “Jawaban bagaimana, kek? Sakit ini!”

“Benar sakit?” tanya kakek. “Sumpah, sakit banget, kek!” Lalu kakek itu bertanya lagi, “engkau yakin sakit itu ada?” “Yakin, kek!” Kakek itu kembali berkata, “Baiklah, kalau benar sakit itu ada, coba tunjukkan atau gambarkan saja seperti apa sakit itu?” Orang yang terpelajar mulai kebingungan, “Ya, pokoknya ada.”

Itulah bukti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu ada, tapi tidak bisa ditunjukkan atau digambarkan tapi bisa dirasakan bagi yang yakin kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Baiklah,” lanjut kakek itu, “Apa sebelum itu engkau pernah bermimpi ditempeleng?” “Tidak,” jawabannya. “Apa engkau merencanakan ditempeleng?” Tanya kakek lagi. “Sama sekali tidak.” Atau, “Mungkin engkau punya cita-cita ditempeleng?” “Amit-amit, nggalah kek.” Maka,”itulah takdir,” jelas kakek alim.

Lalu, “Ini apa?” kakek menunjuk telapak tangannya, “kulit.” Dan, “Di pipimu itu apa?” Kulit,” jawabanya lagi. “Jadi, saat kulit bertemu dengan kulit tadi bagaimana?” “Sakit , Kakek" ujarnya yang masih kesakitan. Begitulah ketika setan dimasukan ke neraka.

Nah Saudaraku. Kita harus yakin bahwa Allah selalu hadir, menyaksikan, mengawasi dan menjaga kita.

KH. Abdullah Gymnastiar
5 Agustus 2020

Sabtu, 04 Januari 2020

Ucapan ”Seandainya" Ketika Mendapati Musibah

Dari Abu Hurairah ra bahwa RasuluIlah SAW. bersabda, ”Mukmin yang kuat Iebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah, namun keduanya memiliki kebaikan. Berlombalah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.
Jika engkau terkena sesuatu musibah, jangan berkata 'Seandainya aku mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi katakanlah,' ini adalah takdir Allah. Dan siapa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi’. Karena sesungguhnya ucapan ’seandainya’ membuka pintu masuknya godaan setan."
(HR. Imam Muslim).

Ucapan ”seandainya” hanya akan menambah kerumitan yang dihadapi. Kita bisa ribut dan saling menyalahkan. Apapun kejadian yang tidak diingini harus menerimanya ucapan,"ini adalah takdir-Nya".

Ya, kita harus menerimanya dengan ridha karena tidak menerima pun tetap terjadi. Umpamanya sebuah genteng Jatuh dan mengenai jidat. Kita tidak bisa mengeIuh, “Saya tidak terima". Bukankah tanda terimanya sudah Jelas, yaitu benjol atau luka di kepala yang bisa dilihat orang-orang. Begitu dengan tangan yang melepuh tadi, dan Iain-Iain. Itu sudah takdir Allah Ta’ala. Jalani semuanya tanpa kata "seandainya”.

Kemudian, jangan berhenti hanya pada menerima saja. Seperti pepatah “nasi sudah jadi bubur", kita memang harus menerima dan ridha terhadap bubur tersebut.Tetapi bukan berarti buburnya mesti dibuang. Carilah bahan dan bumbu Iainnya sehingga menjadi bubur ayam spesial.

Begitu pula dengan, misalnya, mobil penyok. Kita tidak perlu meributkan bagian yang penyok itu. Lihat dan syukurilah bagian yang masih bagus sambil memperbaiki yang rusak di bengkel. Boleh jadi, inilah cara Allah untuk memberikan rezeki kepada tukang bengkel. Ambillah pelajaran atau hikmah dari setiap kejadian.

Allah, Dialah Zat Yang Maha Menentukan. Kita yakin saja kepada-Nya dalam segala hal. Kita yakin bahwa tidak akan pernah ada yang tertukar. Apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti bertemu atau terjadi. Begitu Sebaliknya. Baik rezeki, jodoh, dan semuanya. Apa pun itu, sekali pun keberadaannya tampak jauh dari kita, jika Dia menghendaki, pasti akan datang menghampiri.

Di sini termasuk pula kemuliaan. Kemuliaan bukan berasal dari pujian orang-orang. kemuliaan adalah pemberian dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba yang pantas menerimanya, yaitu mereka yang bertakwa. 0rang yang bertakwa adalah orang yang tauhidnya paling bersih. Dia yakin sepenuhnya kepada Allah. Dia patuh dan pasrah kepada-Nya. Semakin yakin kita kepada Allah, kepatuhan dan kepasrahan pun akan terhujam di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Orang yang bertakwa dan tauhidnya kokoh, dia pasti yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang tertukar dia akan mudah menerima, menjalani, dan menghadapi takdir. Pikirannya positif dan sanggup mengambil hikmah sehingga episode-episode kehidupan berikutnya bisa dijalani dengan baik.

Dari Abu Darda ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Bagi segala sesuatu ada hakikatnya. Dan seorang hamba Allah tidak akan dapat mencapai hakikat iman sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset atau terlepas darinya. Dan apa yang terlepas darinya tidak akan dapat menimpanya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Namun tentu saja, ilmu yakin ini bukan berarti memperbolehkan pengabaian syariat. Rezeki misalnya dia sudah diatur oleh Allah, tetapi kita jangan diam saja.

Kita tetap harus bergerak dan berupaya dengan cara yang baik dan halal. Adapun setelah berusaha ke sana-sini masih belum bertemu, kita harus tetap tenang karena Dia Maha Melihat.

Demikian pula saat di perjalanan, sabuk pengaman dan helm tetap harus dipakai karena Allah Ta’ala sudah menakdirkan keduanya ada. Dan, aturannya pun mengharuskan kita untuk memakainya. Bagaimana kalau tetap celaka juga? Celaka atau tidak adalah takdir dari Allah, itu jelas. Ada hal-hal tertentu yang berada di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya. Maka,tugas kita adalah berusaha menyempurnakan syariat sebagai amal saleh kita. Sekali pun nanti takdirnya celaka, amal saleh itu sudah dicatat di sisi-Nya. *

“Bagi segala sesuatu ada hakikatnya Dan seorang hamba Allah tidak akan dapat mencapai hakikat iman sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset atau terlepas darinya. Dan apa yang terlepas darinya tidak akan dapat menimpanya.”
(HR. Ahmad dan ath-Thabrani)

KH. Abdullah Gymnastiar
3 Januari 2020

Senin, 23 Desember 2019

Ringan Menerima Takdir

Saudaraku, ada perumpamaan lama. Misalkan, kita sedang berada di dalam sebuah ruangan gelap. Kemudian, tiba-tiba ada seseorang memukul dengan gulungan koran. Kira-kira apakah kita akan marah? 

Secara manusiawi tentunya akan marah. Tetapi, apakah kita tetap emosi ketika lampu dinyalakan dan ternyata yang memukul itu adalah mertua? Dia yang sudah merestui kita menikahi anaknya, ditambah bonus apartemen megah, dua mobil mewah, serta deposito lima milyar. Rasanya kecil kemungkinan orang akan marah. 

Maksudnya, terhadap orang yang berbuat baik kita jarang kecewa, walaupun kadang keinginan orang tersebut tidak sesuai dengan harapan kita. Gulungan koran tidak ada apa-apanya dibanding tumpukan uang milyaran. Itu terasa ringan dibandingkan apartemen, mobil, dan terutama restu untuk menikahi putrinya. 

Nah, itu kepada sesama makhluk. Kalau terhadap makhluk kita bisa begitu, seharusnya kita bisa lebih mampu menerima setiap takdir dari Allah. Dia yang telah menciptakan dan memberi rezeki yang tidak ternilai kepada kita sampai saat ini. 
"Tidak ada satupun musibah yang menimpa di bumi ini maupun pada dirimu, kecuali sudah tertulis di dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak terlalu berduka-cita dengan apa yang Iuput darimu, dan tidak berbangga-bangga diri dengan apa yang Allah berikan padamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri."
(QS. AI-Hadid [57]:22-23). 
Jadi, beratnya cobaan hidup, perih dan getirnya batin ini menghadapi takdir, dikarenakan kita belum yakin bahwa yang menimpakan takdir ini adalah Zat Yang Mahabaik. Dia yang selama ini selalu berbuat baik. Ketika mendapatkan ujian dan tidak menganggap ujian ini datang dengan izin dari-Nya Allah, kita pasti merasa berat. 

Orang-orang yang sering kecewa dalam menjalani hidup adalah orang-orang yang sok tahu dan lebih condong kepada nafsu. Coba lihat para sahabat Nabi SAW. Mereka sudah tidak peduli, apakah hidupnya senang atau susah, dipuji atau dicaci, sehat atau sakit. Mereka sangat paham bahwa di dalam keduanya terdapat kebaikan. 
”Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]:216). 
Jadi. apabila pernikahan kita tiba-tiba batal, yakinlah bahwa itu bukan sebuah keburukan sehingga tidak usah kecewa berkepanjangan. Kalau memang bukan jodoh, pernikahan pasti tidak akan berlangsung. Boleh jadi, Allah Ta'ala ingin mengganti dengan yang lebih baik. Jalani saja. Jika surat undangan sudah terlanjur disebar, maka tinggal membagikan surat tidak jadi diundang. 

Ingin kuliah tidak lulus ujian atau ingin mengabdi di pemerintahan tetapi tidak lolos tes CPNS, bukanlah akhir kehidupan.Yang penting niat mengikutinya benar dan itu sudah menjadi amal saleh. Siapa tahu Allah mempunyai rencana lain untuk kita. Begitu juga bagi yang sakit dan telah berobat ke mana-mana tetapi belum sembuh, ikhtiarnya sudah menjadi amal.

”Seharusnya terasa ringan bala yang menimpa kepadamu karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji kamu. Maka Allah yang menimpakan kepadamu takdir-Nya itu, Dia pula yang telah biasa memberikan kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu. Dialah yang membiasakan engkau merasakan sebaik-baik pilihanNya atau pun pemberiannya.” (AI-Hikam, No.115). 

Apa pun yang sudah terjadi itulah namanya takdir, Tinggal bagaimana kita menerima setiap episode kehidupan, yaitu dengan sabar dan ridha terhadap Suatu takdir akan terasa ringan ketika kita yakin bahwa dia datang atas izin dan dari Allah Yang Maha Tahu segala sesuatu, Yang Maha Baik, dan yang selama ini pun selalu berbuat baik. Dengan hati yang ridha, tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ke episode takdir yang lain. 
“Bolehjadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. ”
(QS. al-Baqarah [2]:216)

KH. Abdullah Gymnastiar
22 Desember 2019

Senin, 23 September 2019

Sebetulnya Kesulitan itu Lebih Aman

Sangat wajar apabila orang bergembira dengan jabatan tinggi yang didudukinya, uang bayak yang dikantonginya, atau aneka kesuksesan hidup yang mengiringinya. Namun, berhati-hatilah saudaraku apabila kita tengah memiliki itu semua. Sebab, yang namanya kesenangan itu lebih bahaya daripada kesulitan.

Mengapa? 
Di dalam kesenangan, nafsu biasanya akan lebih bebas beraksi. Saat memiliki banyak uang misalnya, kita lebih leluasa untuk membeli apa saja yang kita inginkan. Sesuatu yang tidak penting dan tidak bermanfaat pun dibeli dan dipamerkan. Kita baru ingat kalau barang yang sudah di beli itu tidak bermanfaat ketika sedang kesulitan uang atau saat melihat iklan jual beli barang bekas.

Begitu pula dengan gelar, jabatan, atau kedudukan, dia bisa menjadi ujian yang melenakan. Saat sedang menjabat kita merasa penting dan mulia sehingga bisa dengan seenaknya memerintah dan memarahi orang lain. Nafsu kita merajalela di sana. Namun, ketika jabatan itu lepas, nafsu kita akan diam tidak berkutik. Andaipun setelah tidak menjabat kita masih suka mengatur dan merasa penting, kita harus segera sadar.
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir." (QS. al-Ma'arij [70]:19-21).
Ayat-ayat berikutnya mengungkapkan pengecualian bagi orang-orang yang setia melaksanakan salat, bersedekah, meyakini adanya Hari Pembalasan dan Azab Allah, menepati janji, dan selalu berbuat baik.

Manusia diciptakan suka mengeluh. Namun, dalm menghadapi sebuah kesulitan, kita bisa curhat dan memohon pertolongan Allah, misalnya ketika salat. Kita yakin sepenuh hati bahwa hanya Allah Ta'ala yang dapat menolong karena Dialah yang menciptakan dan menggerakkan semuanya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat terjadi tanpa izin-Nya.

Kesulitan lebih mudah dijadikan jalan bertobat dan mendekatkan diri kepada-Nya daripada kesenangan. Bagaimana tidak, dalam kesenangan nafsu pun ikut menggelora. Ketika memeroleh pangkat dan jabatan atau harta, kita cenderung pelit dan lupa kepada Zat yang Maha Pemberi, apabila terhadap sesama makhluk-Nya yang semestinya kita berbagi. Kita akan beranggapan kalau semua itu merupakan hasil kerja keras sendiri.

Kita perlu meragukan ucapan diri sendiri. Misalnya ketika kita berucap, "Saya akan bersedekah tetapi nanti kalau saya sudah memperoleh untung lebih banyak." Apabila kemudian mendapat lebih, nafsu akan tetap merasa kurang.
"Tidak! Bahkan, kamu mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan (kehidupan) akirat." (QS. al-Qiyamah [75]:20-21).
Dalam kesenangan kita mudah lupa dan bernafsu pada hal-hal duniawi daripada kehidupan akhirat yang lebih penting.

Jadi, apalah artinya kesulitan di dunia, apabila dia bisa membuat kita bertobat dan mulia di sisi Allah. Ada banyak orang yang hidup bersama kesenangan, akan tetapi dibiarkan leluasa berbuat maksiat dan dosa. Na'udzubillah.. Menurut saya, lebih baik keadaan sulit yang mengantarkan kita kepada tobat dibandingkan kesenangan yang membuat semakin jauh dari-Nya.

Hal ini tentu saja bukan berarti anjuran untuk mencari-cari kesulitan maupun kesulitan untuk sekadar pencitraan. Kesulitan yang di maksud adalah episode -episode kehidupan yang ditakdirkan Allah yang harus kita terima sambil bertobat kepada-Nya. Yakinkan diri bahwa,
"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. asy-Syarh [94]:5-6).
Mari kita tetap berikhtiar dan berharap hanya kepada Allah Ta'ala.

"-----------------------------------------------------------------
Keluh kesah menandakan kalau kita tidak ridha dengan takdir-Nya. Padahal, bagi orang beriman setiap takdir pasti baik.

(Sumber: Buku Ikhtiar Meraih Ridha Alloh Jilid 1 karangan Abdullah Gymnastiar)

Jumat, 05 April 2019

Doa Keluar Rumah

Sahabat, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kepada diri kita nanti walaupun kita sudah mempunyai rencana. Banyak sekali hal yang sangat memungkinkan terjadi tanpa kita duga-duga, meskipun kita telah memiliki persiapan dan perencanaan dengan baik tapi tetap tidak akan pernah bisa menghalangi apa yang telah Alloh tetapkan.

Maka setiap keluar rumah kita harus berlindung kepada Alloh dengan senantiasa berdoa :

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bismillahi tawakkaltu álallahi, laa haula wa laa quwwata illa billah
“Dengan nama Alloh, aku berserah diri kepada Alloh, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh” (HR. Abu Daud)

Ada tiga karunia yang diberikan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala ketika kita membaca doa itu adalah :
1. Diberi petunjuk oleh Alloh,
2. Diberi kecukupan oleh Alloh dan
3. Diberi perlindungan oleh Alloh.

Maka kita harus yakin bahwa sangat mudah bagi Alloh untuk mengambil semua yang kita miliki, maka kita harus senantiasa memperbanyak berdoa agar Alloh Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan petunjuk, memberi kecukupan, dan juga selalu memberi perlindungan kepada kita. 
Aamiin Yaa Robbal Aalaamiin.

KH. Abdullah Gymnastiar 
4 April 2019

Rabu, 14 November 2018

Takdir

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

ALLAHU AKBAR WALILLAAHILHAMDU, apapun yang terjadi hamba yang beriman itu selalu mengucapkan ”alhamdulillah Robbil aalamiin”, karena hati hamba yang beriman itu ALLAHU AKBAR MAHA BESAR, luas, lapang, tidak bersedih, tidak rapuh, apalagi putus asa.

SubhanAllah hidup kita ini dalam rencana Allah, dari takdir ke takdirNya. Maunya kita, rencana kita tidak berdaya pada iradah dan qudrahNya. 
“Tidaklah kalian mencapai kehendak kalian kecuali Allah yang berkehendak.” (QS At Takwir 29)
Saudariku tercinta Fillah, kita sudah berencana, kita sudah berikhtiar habis-habisan, berdoa tiap saat bahkan dengan tangisan, namun “apapun terjadi”, kisahnya saja a sampai z, Allah jua yang menentukan.

Sungguh hamba yang YAQIN kepada ALLAH tidak akan kecewa berkepanjangan apalagi putus asa, karena Allah Maha Tahu takdir terbaik pada setiap hambaNya.
"Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan" (QS Ash Shaffat 96)
Sejuta hikmah dibalik semua takdir, dan hanya hamba yang beriman yang bersih hati pikirannya bisa membacanya, Allahu Akbar.

Allahumma Yaa Allah TakdirMu adalah TakdirMu, Hamba bukan menolak TakdirMu, tetapi beri kepada hamba keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, baik sangka dan, “Allutfu”, kecerdasan menangkap bahasa hikmah di balik semua TakdirMu, Aamiin.

Saudaramu fillah,

K. H. Muhammad Arifin Ilham

13 November 2018

Diperbarui 21 Desember 2018

Selasa, 27 Maret 2018

Doa


Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah inilah dahsyatnya doa, saking hebatnya doa sampai-sampai Allah merubah takdirNya karena sayang, cinta, suka dan hormatNya kepada hambaNya yang merintih bermunajat padaNya.

‎وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ
‎يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”
(QS Al-Mu’min 60)

‎قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ
‎إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik”

(HR Tirmidzi 2065)

SubhanAllah, karena itu jangan pernah putus asa, tidak ada yg mustahil bagi Allah, semua bisa terjadi atas iradah dan qudrahNya.

Ayooo terus ikhtiar, berdoa, baik sangka dan tawakkal padaNya.

Allahumma ya Allah Engkau Maha Menjawab setiap doa, kabulkanlah doa kami...aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
26 Maret 2018

Selasa, 20 September 2016

Tenaga Kerja Wanita (TKW)

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

TKW bukanlah pilihan kami, bukan cita-cita kami, apalagi tujuan kami
TKW keadaan kami, ikhtiar kami dari takdir ke takdir yang lebih baik
TKW memang sangat berat, jauh dari keluarga, dan tanah air yang mestinya kami disana
TKW semangat karena ada harapan keluarga, dan masa depan kami
TKW lelah, jauh dan sedih, tetapi iman kami mengajari kami untuk menikmati semuanya
TKW membuat iman kami semakin terjaga dalam ibadah bahkan da'wah
TKW menjadikan kami lebih mandiri, bersopan santun, dan saling sayang dengan saudara saudari kami seperjuangan
TKW mengajarkan kami bahwa hidup ini memang musafir, sekedar mampir, bukan disini tetapi disana, hidup di akhirat nanti selama lamanya
TKW harusnya menyadarkan hati nurani para pemimpin negeri ini, agar kami rakyat dapat mencari nafkah di negeri tercinta Indonesia.

Abang mulai menulis ini di bandara Hongkong, terkesan saat mereka melepas kami, sementara mereka akan kembali dengan ritual ikhtiarnya dengan waktu yang lama.
Hati ku perih, kagum dan bersyukur melihat ketabahan mereka.

Allahumma ya Allah Pemilik semua hati dan keadaan, kuatkanlah iman TKW kami, jagalah mereka, hiasilah hidup mereka dengan ketabahan dan kejujuran, mudahkan mereka meraih rizki yang halal penuh berkahMu, jadikan mereka wasilah hidayah bagi tuan-tuan mereka karena keindahan Islam mereka, dan segera kumpulkan kembali mereka dengan keluarga mereka dalam ikhtiar yang penuh dengan karuniaMu...aamiin.

Selamat berjuang bu Nining, mbak Supiyati, mbak Nuris, mbak Nurul dan semua saudara saudariku POSMIH (Persatuan Organisasi Muslim Hongkong) seiman dan setanah air.
Kalian pahlawan devisa,
Kalian wanita wanita yang tangguh, pantang menyerah,
Kalian bidadari-bidadari keluarga
Kalian harapan dan kebanggaan anak-anak kalian
Kalian mujahidah di negeri hutan beton 


Selamat berjuang...
Sahabatmu Muhammad arifin ilham.


K. H. Muhammad Arifin Ilham
19 September 2016

Rabu, 27 Agustus 2014

Alluthfu

SubhanAllah mengapa seorang mu'min itu selalu kuat, tegar, pantang menyerah menghadapi segala persoalan kehidupan ini?! 

Karena bukan hanya ia faham benar DUNIA INI SEBENTAR, dan bukan hanya karena ia MENIKMATI KETAATAN kepada Kekasihnya Allah, tetapi segala persoalan ia KEMBALIKAN dan BERSANDAR hanya kepada Kekasihnya Allah. 

Dengarlah aduan rintihannya kepada Kekasihnya, "Allahumma innaa la nasaluka roddal qodhoi wa laakinna alluthfa fiihi" Allahumma ya Allah hamba bukan menolak taqdirMu, taqdirMu adalah taqdirMu, tetapi berilah kekuatan, keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan dan "alluthfu" KECERDASAN MENANGKAP BAHASA HIKMAH DIBALIK SEGALA TAQDIRMU...aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
25 Agustus 2014

Senin, 25 Agustus 2014

Obat Galau Dari Imam Safi'i


Biarkan hari berlalu dengan segala lakunya, Lapangkan dada atas segala Takdir-Nya

Janganlah gundah dengan segala derita
Karena cobaan dunia hanya sementara


Tangguhkan jiwa atas segala nestapa
Hiasi diri dengan maaf dan sikap setia


Semua aib akan dapat tertutup dengan kelapangan dada
Layaknya kedermawanan menutupi cela manusia


Tak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka ria
Dan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembira


Di depan musuh, janganlah engkau bersikap lemah
Karena hinaan dari seteru adalah bencana


Dan jangan pernah berharap dari kikir durjana
Karena api takkan menyediakan air untuk si haus dahaga


Rizkimu takkan berkurang karena ditunda
Dan takkan bertambah karena lelah mencarinya


Bila engkau punya hati qona'ah bersahaja
Tak ada bedanya engkau dengan pemilik dunia


Bila kematian sudah datang waktunya
Tak ada lagi langit dan bumi yang bisa membela


Ingatlah, dunia Allah sangat luas tak terhingga
Tapi bila takdir tiba, angkasa pun sempit terasa
Maka biarkanlah hari berlalu setiap masanya
Karena kematian tak ada obat penawarnya



Imam Syafi'i

Sabtu, 26 April 2014

Hikmah Sakit

SubhanAllah sebelum rehat malam ini, mari kita renungi tentang hikmah sakit.

Sakit Itu adalah ujianNya.
Kemuliaan baginya karena sabar dan membuat malaikat yang selalu sehat takjub.


Sakit, sebagaimana juga setiap ujian, bukan menguji ketangguhan dan kemampuan. Sebab sakit Allah beri sudah sesuai dengan takaran dan daya tahannya.
Ia sejatinya menguji kemauan untuk memberi makna. Maka bagi dia yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, insya Allah kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yang selalu sehat takjub. 

Sakit adalah jalan kenabian Ayub yang menyejarah. Kesabarannya yang lebih dari batas (disebut dalam sebuah hadits 18 tahun menderita penyakit aneh) diabadikan jadi teladan semesta. Dan atas kenyataan sejarah tersebut, hari ini cobalah bercermin kepadanya. Hari ini pula kita bisa bercermin kepada sosok-sosok mulia yang pernah juga sakit. Sakit, yang di ujung penggal kehidupan mereka yang ditemukan adalah kemuliaan serta terus bertambah derajat kemuliaannya di mata Allah. 


Imam As-Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu; Imam Malik lumpuh tangannya dizhalimi penguasa; Nabi tercinta kita pun pernah sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup melalui celah gigi yang patah di perang Uhud. Bukankah setelah akhirnya sakit, semuanya semakin mulia di mata Allah bahkan juga di mata sejarah manusia.

Sakit itu zikrullah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya. 
Sakit itu istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun. 
Sakit itu tauhid. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar? 
Sakit itu muhasabah. Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. 
Sakit itu jihad. Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.
Bahkan sakit itu ilmu. Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit. 
Sakit itu nasihat. Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya. 
Sakit itu silaturrahim. Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah. 
Sakit itu gugur dosa. Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. 
Sakit itu mustajab doa. Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit. 
Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan; diajak maksiat tak mampu-tak mau; dosa lalu malah disesali kemudian diampuni. 
Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit. 
Sakit meningkatkan kualitas ibadah; rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama. 
Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu. 
Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit. Wallahu A’lam. 


Allahumma ya Allah hamba bukan menolak takdirMu, takdirMu adalah takdirMu, tetapi berilah kepada hamba keikhlasan, kesabaran, kekuatan, ketawakkalan, baik sangka dan "allutfu" kecerdasan menangkap bahasa hikmah dibalik segala takdirMu...aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
16 Desember 2018


Diperbarui
24 April 2014

Selasa, 04 Maret 2014

Semua Karena Allah

Alhamdulillaah 'alaa kulli haal

Dipuji? 
...alhamdulillah berarti Alloh menutupi aib, dosa, maksiat, kekurangan-kekurangan kita.

Dihina?
...alhamdulillah, karena penghinaan kepada kita jauuuh lebih sederhana dibanding kehinaan kita yang sesungguhnya.

Sehat? 
Alhamdulillaah...bisa lebih banyak beramal soleh.

Sakit?
...alhamdulillah berarti Alloh sedang menggugurkan dosa-dosa, mengganti yang buruk dengan yang baik, pahala sabar melimpah, doa jadi mustajab.

Tak ada satupun episode hidup yang Alloh takdirkan, merugikan melainkan semua akan jadi baik dan berkah bila kita menyikapi dengan baik.

Kita sengsara karena buruk sangka kita kepada Alloh, tak ridho dengan takdir-Nya, tak syukur, tak sabar dan tak menyempurnakan ikhtiar di jalan-Nya.

KH. Abdullah Gymnastiar
3 Maret 2014

Kamis, 27 Februari 2014

Rencana Allah

Kita punya rencana, Alloh juga punya rencana. Dan rencana-Nya pasti sempurna kebaikannya.

Tugas kita hanyalah terus menerus meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar di jalan-Nya.

Selebihnya biarlah Takdir pilihan Alloh yang terjadi karena pasti itu yang terbaik.

KH. Abdullah Gymnastiar
25 Februari 2014

Sabtu, 14 Desember 2013

Jangan Meremehkan Doa

SubhanAllah sahabatku jangan sekali kali meremehkan doa. Doa itu perintah Allah, doa itu ruhnya ibadah, doa itu membuat Allah cinta kepada hambaNya. "Anta abdy" engkau hambaKu jawab Allah ta'kala hambaNya berdoa kepadaNya, apalagi sampai merengek menangis penuh harap, Allah nyatakan kecintaanNya pada hambaNya itu.

Para nabi semua dipersenjataai doa. Nabi Adam diampuni dan dimuliakan Allah setelah doa taubatnya (QS Al A'rof 23), nabi Yunus diselamatkan karena doa penyesalannya (QS Al Anbiya 87-88), nabi Muhammad dimenangkan karena doa kesabarannya (QS Al Baqoroh 214).

Rasulullah bersabda, "Tidak ada yang bisa merubah takbir Allah kecuali doa". Saking dasyatnya doa bisa merubah takdir Allah, begitulah cara Allah menghormati menyayangi hamba yang berdoa. TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH, semua bisa terjadi dengan iradah dan qudrahNya (QS Yasin 82).

Karena itu sahabatku. Jangan pernah bosan apalagi putus asa berdoa, yaqinlah semua masih bisa terjadi atas IZINNYA.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
30 November 2013

Minggu, 03 November 2013

Kekuatan Ikhlas

Ada yang sakit cuci darah, dan dirinya tak bisa menerima harus cuci darah seminggu 2 kali, sehingga hari-hari dijalani penuh derita lahir bathin.

Namun setelah menyadari bahwa inilah takdir terbaik, yang Alloh tetapkan bagi dirinya saat ini sesudah sekian lama diberi takdir sehat...

"Inilah takdir terbaikku, kehidupan normalku adalah cuci darah seminggu 2 kali," maka kehidupan menjadi nyaman dan kembali ternikmati.

Setiap orang memiliki episode masing-masing, dan berganti saat, berganti pula episode. Kemampuan ridho kepada takdir, membuat hidup lebih nyaman dan berkah.

KH. Abdullah Gymnastiar
29 Oktober 2013

Kamis, 07 Maret 2013

Tipisnya Sebuah Takdir

Sekarang bisa melihat sesaat bisa buta, gelap gulita.
Sekarang gagah, sekejap bisa lunglai lumpuh tak berdaya.

Sekarang mulus, hitungan detik bisa rusak dan cacat selamanya.
Sekarang ada, seketika bisa tiada tak bersisa.
Sekarang hidup , nanti bisa terbaring sudah menjadi mayat.

Maka syukuri karunia dan kesempatan yang ada. Jaga titipan/amanah-Nya dalam bentuk apapun dengan sungguh-sungguh, karena amat mudah bagi Allah mengambil apa pun yang dikehendaki-Nya tanpa bisa dicegah siapa pun jua.

KH. Abdullah Gymnastiar
23 Februari 2013

Senin, 09 Juli 2012

Sakkaanun

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

Sahabatku, mengapa orang beriman jauh dari stress, frustasi apalagi sampai nekat bunuh diri (kecuali orang kafir, QS Ali Imron 185)?

Karena hamba yang beriman yaqin segala peristiwa ALLAH putuskan dengan RAHMAT, ILMU dan KEBIJAKKANNYA, berarti segala peristiwa ada rahmat dan hikmahNYA (QS 57:22),

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhulmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al Hadid 22-23).

Sahabatku, sakit itu ampunan dosa, musibah itu rahmatNya, kematian itu ridhoNYA, masalah demi masalah "tarbiyatur rabbani" pengajaranNYA. Pantaslah Rasulullah menyebut hamba beriman itu "SAKKAANUN" manusia TERTENANG dari goncangan dunia sebentar ini, SubhanAllah.

Allahumma ya Allah hamba bukan menolak takdir ujianMu, takdir Mu adalah takdirMu, tetapi mohon beri hamba "al lutfu" kekuatan, kesabaran, keikhlasan, ketawakkalan, baik sangka dan kecerdasan menangkap bahasa hikmah dibalik semua takdirMu...aamiin.

Sahabatku, abang sengaja menulis ini di penghujung malam ini saat WAJAH hati terbuka untuk menerima NUR HIDAYAHNYA, insyaAllah kita akan LEBIH ARIF menyikapi segala pernik keseharian hidup dunia yang sangat sebentar ini.

Jazaakumullah semua doa dan perhatian sahabat sholehku, maafkan sekiranya mengganggu keni'matan sholat malam sahabatku.

Semoga hari hari kita lalui senantiasa dalam keni'matan ibadah dan keindahan taat aamiin.

K. H. Muhammad Arifin Ilham
30 Juni 2012

Diperbarui 4 Desember 2015

Jaga Iman dan Akhlak

 Sahabatku iman yang paling baik adalah akhlak Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ ...