Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2016

Harta

Orang yang diperbudak harta sebaiknya merenungi sabda Rasulullah saw. berikut, “Manusia berkata, ‘Mana hartaku, hartaku! Padahal apakah gunanya harta itu untukmu selain yang kamu pakai kemudian rusak, yang kamu makan kemudian habis, dan yang kamu sedekahkan kemudian menjadi kekal.’” (H.R. Muslim).
 
Hadis ini menegaskan, idealnya harta itu menjadi sarana untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, sebab harta yang abadi adalah yang dishadaqahkan (dibelanjakan) pada jalan yang diridoi Allah swt. Sikap ini akan kita miliki apabila kita memahami hakikat harta. Pada hakikatnya, semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik Allah swt., baik harta benda maupun diri manusia itu sendiri. Seseorang yang telah mengikrarkan syahadat Laa ilaaha illallah sangat yakin bahwa Allah Maha Pemilik yang ada di langit dan di bumi.
 
Aam Amiruddin
3 September 2016

Selasa, 23 Agustus 2016

Tiga Macam Nafsu

Manusia itu makhluk yang tidak pernah steril (suci) dari kesalahan karena dalam dirinya selalu terjadi kompetisi nafsu. Ada tiga macam nafsu yang selalu bersaing dalam diri manusia, yaitu Nafsu Ammarah, Lawwamah, dan Muthmainnah.

Nafsu Ammarah adalah dorongan untuk melaku­kan pelanggaran dan kemaksiatan. Manusia paling saleh pun memiliki dorongan ini, karenanya sudah dipastikan tidak ada manusia yang steril dari dosa.

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang suka mengoreksi ketika kita melakukan dosa atau kemaksiatan. Kalau kita berbuat dosa, misalnya berbohong, siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan tersebut salah? Diri kita sendiri, bukan? Inilah yang disebut nafsu Lawwamah. Ber­syukurlah bila kita masih merasa bersalah ketika melakukan dosa. Ini menunjukkan nafsu lawwamah kita masih berfungsi. Bila kita sudah tidak merasa bersalah lagi ketika berbuat maksiat, ini menunjuk­kan nafsu lawwahmah-nya sudah tidak peka, bahkan mungkin tidak berfungsi lagi.

Nafsu Muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tenteram kalau melaksanakan aturan-aturan Allah. Manusia yang paling bejat di muka bumi sekalipun memiliki nafsu muthmainnah. Karenanya, sebejat-bejatnya orang pasti pernah berbuat kebaikan. Hakikatnya, manusia itu hanif (cenderung pada kebaikan), karena itu manusia akan merasa tenang, tenteram, dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan. Sebaliknya, akan merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pe­langgaran dan dosa.

Ketiga macam nafsu di atas, Ammarah, Lawwamah, dan Muthmainnah selalu bersaing. Apabila nafsu muthmainnah memenangkan per­saingan, akan lahir perbuatan baik. Kalau nafsu ammarah yang menang (dominan), akan lahir perbuatan dosa. Keinginan untuk bertobat sesungguhnya lahir saat nafsu muthmainnah mendominasi kita. Karenanya Allah membuka pintu tobatnya selama 24 jam bagi siapa saja yang mau bertobat kepada-Nya.


Aam Amiruddin
21 Agustus 2016

Selasa, 12 Juli 2016

Rahasia Hikmah Hubungan

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

SubhanAllah walhamdulillah, Islam itu agama "hablum minnalaahi wa hablum minnaasi" mengatur hubungan yang indah, mulia dan membahagiakan kepada Allah dan kepada mahluk Allah. Memang dua hubungan ini dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.

Simaklah Kalam Allah ini dengan iman, 
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia..." (QS Ali Imron 112).
Cukup seorang dikatakan berdusta agamanya, mengaku muslim, sholat, puasa haji tetapi tidak peduli faqir miskin dan yatim piatu, 
"Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS Al Maaun 1-3).
Diantara makna rahasia hikmah hubungan itu :


Setelah syahadat pada Allah, pasti syahadah pada RasulNya.
Kalau benar cintanya pada Allah, pasti menjadikan RasulNya teladan dalam hidupnya.
Semakin kuat imannya, pasti semakin mulia ahklaknya.
Penegak sholat itu sangat dermawan.
Penikmat sujud yang mudah menangis itu, pasti penyayang, welas kasih dan rendah hati.
Hamba beriman yang senang berpuasa itu penyayang faqir miskin
Cinta Allah dan RasulNya itu semangat dalam berda'wah.
Kesufian dalam Islam itu adalah jihad fiisabiilillaahi
Setelah banyak takbir dalam sholatnya, maka di akhiri dengan menebarkan salam, salam kanan dan salam kiri.
Benar taatnya pada Allah, pasti bhakti sekali pada orang tuanya.
Hobby zikir, pasti kuat shilaturrahmnya dan menyenangkan siapapun yang ia jumpai.
Suami yang cinta Allah dan Rasul itu, sangat sayang dan mesra pada istri isrrinya dan anak-anaknya, demikian pula sebaliknya.



So, ritual yang baik dan benar itu (ibadah mahdhoh), pasti buahnya kebaikan dan kemuliaan sosial (ibadah ghoiru mahdhoh).

Jadi sekali lagi bahwa seorang muslim yang ingin sukses bahagia, cintailah Allah dan Rasulnya sepenuh hati, dan sayangilah, berbuat baiklah, rendah hatilah pada umat manusia, terutama kepada orang tua, para guru mulia, keluarga, tetangga dan para sahabatnya.


Rasulullah bersabda, "Akmaalul mu'miniina iimaanan ahsanuhum khuluqon", "Semakin sempurna iman seorang mu'min, maka semakin mulia pula akhlaknya." (HR At Tirmidzi).

Allahumma ya Allah tancapkanlah di hati kami keindahan iman, dan hiasilah hidup kami dengan kemuliaan akhlak...aamiin.


K. H. Muhammad Arifin Ilham 
10 Juli 2016

Jaga Iman dan Akhlak

 Sahabatku iman yang paling baik adalah akhlak Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ ...