Jumat, 19 Juli 2019

Muslih

Tidak ada yang tidak suka dengan orang baik, pasti semua orang akan merasa nyaman dekat dengan orang yang baik.

Menjadi orang baik harus dilanjutkan dengan Muslih, mengajak orang lain juga agar berbuat baik.

Terkadang orang baik dibenci, tidak apa. 
Rasulullah yang kita kagumi-pun dulu seperti itu saat menyerukan LAA ILAHA ILLALLOH, tapi beliau tidak surut berdakwah.

Lanjutkan... mengajak orang lain dalam kebaikan.

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim no. 1893)

KH. Abdullah Gymnastiar
18 Juli 2019

Selasa, 16 Juli 2019

Orang Tua dan Anak

Orang tua adalah cerminan bagi anak-anaknya, maka keteladanan apa yang kita berikan untuk anak-anak? Yaitu keteladanan yang baik dimana perbuatan, perkataan dan hati kita itu sama.

Jadi, jika ingin mempunyai anak yang jujur, bagus akhlaknya, bagus tahajudnya maka orang tua harus memberikan contoh yang sama, yaitu menjadi orang tua yang jujur, bagus akhlaknya dan bagus tahajudnya.

"Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." 
HR. Al-Baihaqi dan Ath Thabarani

K. H. Abdullah Gymnastiar
15 Juli 2019

Selasa, 18 Juni 2019

Amalan Terhebat

Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu itu lebih baik. Bisa jadi amalan ini kecil dalam pandangan kita, namun pahala di sisi Alloh sangatlah besar.

Adakah yang lebih kuat dari gunung, besi, api, air, angin?

Dialah orang yang memberi dengan tangan kanan dan tangan kirinya tidak tahu

Dan inilah amalan terhebat di mana kita akan mendapatkan naungan di hari akhir.

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

KH. Abdullah Gymnastiar 
17 Juni 2019

Sabtu, 01 Juni 2019

Ketika Yang Paling Serius Tidak Diseriusi

Benarkah kita yakin bahwa Alloh Ta’ala yang menciptakan, menghidupkan dan memberikan rezeki pada kita? Benarkah kita yakin bahwa Alloh yang menciptakan dan menguasai langit dan bumi? Kalau kita benar-benar yakin, sebesar atau sedalam apakah keyakinan tersebut? mari kita evaluasi diri kita masing-masing.

Jika kita mengatakan bahwa keyakinan dan cinta kepada Alloh harus total dan sedalam-dalamnya, karena Dialah Yang Maha Segalanya, itu artinya Alloh adalah yang paling penting dalam hidup ini. Lalu,mengapa kita tidak serius kepada Alloh hanya memberikan yang sisa dalam hidup?

Sehari-hari kita bersujud kepada Alloh Ta’ala hanya di sisa waktu kesibukan. Kita bersedekah hanya dengan sisa yang jajan. Kita membaca Al-Quran hanya sisa membaca SMS, internet, majalah atau koran. Kita menyebut nama Alloh Ta’ala juga sisa dari menyebut-nyebut nama keluarga, kenalan maupun nama hewan peliharaan.

Hal yang lebih menyedihkan lagi, kita serius dan saling berlomba serta berbangga diri mempelajari ilmu komputer, akuntansi, bahas, matematika, biologi dan lainnya. Namun, ilmu tentang Alloh tidak begitu serius dan penting bagi kita. Ilmu tentang Alloh hanya sisa, yang seringkali sisa itu pun tidak kita sisakan.

Kita lebih sibuk pada uang dan orang, lebih mengurus pangkat dan gelar. Dibanding cinta kepada Alloh, kita lebih cinta pada makhluk. Dibanding membuka Al-Quran kita lebih asik membuka medai sosial. Daripada berzikir kita lebih menikmati menginat dan mengenang makhluk yang ditaksir, bahkan kita sering terlambat shalat karena sedang ada si dia.

Tidak terbanyangkan, bagaimana bisa kira berani memberikan sisa-sisa kesibukan duniawi kepada Alloh Tuhan Semesta Alam? Kita mengatakan bahwa yang paling serius dalam hidup adalah Allloh, tetapi kita sendiri sangat tidak serius kepada-Nya.

Kalau benar kita serius kepada Alloh Ta’a, kita pun harus serius mempelajari, mengenal, mendekat dan mengabdi kepada-Nya. Ilmu tentang Alloh harus kita cari dan pelajari agar kita semakin mengenal dan semakin larut cinta kepada-Nya. CInta tidak ada artinya kalau hanya di bibir saja.

Misalnya, saat terjadi sesuatu yang luar biasa, kita boleh saja mengucap nama Alloh. Saat mendapat rezeki kita bisa saja berkata, “Alhamdulillah, Alloh Yang Maha Memberi”. Tetapi benarkah kata-kata itu sesuai dengan yang ada di lubuk hari yang terdalam? Atau mungkin, kita bersusah-payah mengeluarkan suara serak-serak basah karena sedang di dekap calon mertua atau bos.

Kita biasa memajang stiker, ukiran, kaligrafi, spanduk ataupun baliho bertuliskan “Allah” di ruang tamu. Kita sudah hapal rukun iman sejak di TK atau SD. Namun, apakah kita sudah mengenal siapa dan bagaimana Alloh? Lalu, apakah keyakinan dan cinta kita kepada-Nya sudah terpahat dalam di hati?
“Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada(mu).” (QS. Az-Zumar [39]:7).
Saudaraku, kalau kita yakin bahwa yang paling penting dan paling serius dalam hidup adalah Alloh, kita juga akan serius mengenal-Nya. Kalau kita serius mempelajari ilmu yang paling agung, yaitu ilmu tentang Alloh, kita juga akan mengenal banyak hal yang ada di bumi, langit atau kehidupan ini. Kapan dan dimana pun yakin bahwa Alloh selalu memperhatikan. Dengan cara itulah hidup kita akan tenang, nyaman dan hati-hati.

Sebaliknya, hidup akan resah dan gelisah ketika yang paling serius tidak diseriusi. Kita akan galau dan bingung sendiri setiap kali menjalani bagian demi bagian episode kehidupan. ketidak seriusan belajar dan mengenal Alloh Ta’ala itulah sumber seluruh masalah dalam hidup.

Alloh pasti memerhatikan. Alloh juga menatap saudara saat sedang membaca tulisan ini. Alloh pasti tahu apa yang ada dilubuk hati kita. Persoalannya, apakah kita benar -benar ingat dan yakin kalai kita sedang diperhatikan-Nya. Mari kita serius mengenal Alloh Ta’ala, Tuhan Semesta Alam.

KH.Abdullah Gymnastiar, ed. 2015. Ihktiar Meraih Ridha Allah. Bandung (ID): Emqies Publishing.)

31 Mei 2019

Senin, 20 Mei 2019

Rumus Kehidupan

Saudaraku, masih ingatkah kita dengan sejumlah rumus yang pernah diajarkan di sekolah, seperti rumus luas lingkaran, segitiga, kubus dan sebagainya? Rumus-rumus itu diajarkan di sekolah unutk memudahkan kita dalam menghitung. Maka, rumus-rumus ini menjadi sangat penting. Orang tidak lulus ujian di sekolah bukan karena salah soal, tetapi karena salah rumusnya. Salah rumus, salah jawabannya.

Begitu dengan kehidupan ini. Rumus kehidupan adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassalam. Di antaranya adalah rumus untuk menghadapi aneka masalah yang sangat dekat dengan keseharian kita. Kita bisa membacanya pada surah Al-Baqarah [2] ayat 155-157, 
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Alloh, dan kepada-Nyalah kami kembali). Merekalah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Rumus ini menerangkan bahwa Alloh Ta’ala akan menimpakan sedikit ujian kepada hamba-hamba-Nya. Ketakutan, kelaparan maupun kekurangan harta itu semua pasti akan ditimpakan kepada manusia, tidak bisa tidak. Namun demikian, ayat tersebut ada sambungannya, yaitu bahwa Alloh akan memberikan kabar gembira bagi orang yang sabar dalam melaluinya. Jadi kalau kita sabar, kepahitan itu sebetulnya adalah kabar gembira.

Lalu, sabar itu apa? Kita mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa semua milik Alloh dan kita pasti kembali kepada-Nya. Satu tidak merasa memiliki. Dua tidak punya tempat kembali. Dengan demikian, selama kita merasa memiliki dan selama kita masih mencari tempat kembali selain Alloh, selama itu pula tidak akan ada sabar.

Jadi, dari musibahlah datangnya berita gembira bagi orang yang sabar, yaitu orang yang merasa tidak memiliki apapun, kecuali yakin lahir dan batin kalau semuanya milik Alloh Ta’ala. Maka, siapa yang ingin mendapatkan keberkahan yang sempurna, curahan rahmat dan petunjuk, dia harus siap melewati kepahitan yang sedikit dan pasti ditimpakan.

Ketika diberikan sebuah ujian, kita merasa menderita itu bukan karena ujiannya yang besar. Ujiannya itu hanya sedikit dan kepahitannya untuk kita pun sudah diukur. yang mendramatisisasinya. Mengapa? Sebab, kita belum tahu rumusnya.

Ada orang yang malah sengaja mendramatisasi kesulitannya sendiri karena dia tidak tahu atau lupa rumusnya. Kepahitannya justru dijadikan sebagai pencitraan agar orang-orang kasihan lalu membantunya, maupun supaya orang-orang menganggap dirinya hebat.

Jadi saudaraku, untuk apa? Ujian hidup kita yang sedikit itu urusannya dengan Alloh Ta’ala dan setiap jalan keluar juga milik-Nya. Berdoalah kepada Alloh dan bersabarlah. Tidak akan ada gunanya kita menangisi masalah, mempersalahkan orang lain, atau mencari simpati dan pencitraan atas masalah yang dihadapi, kecuali hanya akan membuat kita semakin menderita. 
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]:28)
Jadi, mari kita baca dan pelajari Al-Qur’an dan Sunnah. Kita pahami rumus kehidupan yang telah dijelaskan dengan sangat terang agar kita bisa lulus ketika menghadapi ujian dan agar hidup kita yang sementara ini tidak gagal.

“Mustahil bagi kita untuk mendapatkan jalan keluar dari himpitan masalah, tercapai keinginan yang terbaik atau selamat dari ancaman, kecuali hanya dengan pertolongan-Nya.”

KH. Abdullah Gymnastiar, ed. 2015. 𝘐𝘩𝘬𝘵𝘪𝘢𝘳 𝘔𝘦𝘳𝘢𝘪𝘩 𝘙𝘪𝘥𝘩𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 . Bandung (ID): Emqies Publishing.)

Kamis, 02 Mei 2019

Liqoouhu

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

SubhanAllah saat ratu bidadari menangis melihat keadaan imamnya, mendengar wasiat dan bahwa kematian janganlah ditakuti, karena mati adalah ”liqoouhu” jalan satu-satunya berjumpa dengan Allah yang kita sangat cinta rindu beribadah taat kepadaNya.

‎الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
(QS Al Baqoroh 46)
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman:

‎إِذَا أَحَبَّ عَبْدِي لِقَائِي أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ وَإِذَا كَرِهَ لِقَائِي كَرِهْتُ لِقَاءَهُ.

“Bila hamba-Ku senang bertemu dengan Aku, maka Aku juga senang bertemu dengannya. Bila hamba-Ku tidak senang bertemu dengan Aku, maka Aku pun tidak senang bertemu dengannya.” 
(HR. Malik, Ahmad, Bukhari dan Nasa’i)

SubhanAllah dia nangis walau abang masih ada infus akan beranjak untuk memeluknya. InsyaAllah semua kita dikumpulkan Allah bersama umat Rasulullah dalam RIDHO, RAHMAT dan SYURGA...aamin aamiin aamiin.

Terputus karena yang pegang kamera menangis.

Penang Malaysia

K. H. Muhammad Arifin Ilham 
1 Mei 2019

Senin, 29 April 2019

Penentu Akhir

Assalamualaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuhu.

Simak Kalam Allah dengan iman, 
“Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa niscaya Allah bukakan keberkahan dari langit dan bumi ...”
(QS Al A’raf 96)
SubhanAllah walhamdulillah sahabat da’wahku kegelisahan dunia bagi hamba yang beriman menjadi cambuk hebat untuk membuat diri semakin takut, taat dan cepat segera mendekat kepada Allah.

ALLAHU AKBAR adalah PENENTU AKHIR setelah ikhtiar maksimal, doa senjata terkuat dikerahkan terutama di penghunjung malam, yaqin sepenuh hati PERTOLONGAN, baik sangka atas ujiannya, “bukankah terpuji karena teruji dulu”, karena itu sabar dan akhirnya tawakal.

Allahumma ya Allah dalam gejolak apapun di dunia ini tetap dan semakin kuat cinta taat kami kepadaMu...agar negeri berkah dengan KEJUJURAN dan KEADAILAN PARA PEMIMPIN dan rakyat pun sejahtera dan aman membangun negeri tercinta dalam lindungan Allah.

Muhammad arifin ilham yang sangat sayangi tim umat dan negeri tercinta kita.

Jazaakumulllah doa kasih sayang ikhwah Fillah.

Abang di masih rehat dipenang.

Muhammad Arifin Ilham 
22 April 2019

Sabtu, 06 April 2019

Istigfar

Sahabatku, setelah sholat maka kita dianjurkan untuk bisa beristighfar sebagai bentuk evaluasi kita akan sholat tersebut.

“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya, beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan:
“ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKROOM” 
(artinya: Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Oleh karena itu sahabatku, jangan sampai setelah sholat kita melupakan istighfar, karena orang yang melupakannya akan merasa rugi. Dan juga semoga dengan sholat, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin Yaa Robbal Alamin....

KH. Abdullah Gymnastiar
5 April 2019

Jumat, 05 April 2019

Doa Keluar Rumah

Sahabat, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kepada diri kita nanti walaupun kita sudah mempunyai rencana. Banyak sekali hal yang sangat memungkinkan terjadi tanpa kita duga-duga, meskipun kita telah memiliki persiapan dan perencanaan dengan baik tapi tetap tidak akan pernah bisa menghalangi apa yang telah Alloh tetapkan.

Maka setiap keluar rumah kita harus berlindung kepada Alloh dengan senantiasa berdoa :

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bismillahi tawakkaltu álallahi, laa haula wa laa quwwata illa billah
“Dengan nama Alloh, aku berserah diri kepada Alloh, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh” (HR. Abu Daud)

Ada tiga karunia yang diberikan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala ketika kita membaca doa itu adalah :
1. Diberi petunjuk oleh Alloh,
2. Diberi kecukupan oleh Alloh dan
3. Diberi perlindungan oleh Alloh.

Maka kita harus yakin bahwa sangat mudah bagi Alloh untuk mengambil semua yang kita miliki, maka kita harus senantiasa memperbanyak berdoa agar Alloh Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan petunjuk, memberi kecukupan, dan juga selalu memberi perlindungan kepada kita. 
Aamiin Yaa Robbal Aalaamiin.

KH. Abdullah Gymnastiar 
4 April 2019

Kamis, 28 Maret 2019

Zuhud

Sahabatku yang baik, Rasulullah Shallallahu 'alahi Wa Sallam mengajarkan kita agar bisa melakukan amalan zuhud. Zuhud adalah amalan hati yang terdalam, dan hanya Alloh yang bisa menilainya.

Lakukanlah 3 amalan zuhud ini, agar senantiasa dicintai oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala :

1. Lebih meyakini bahwa rezeki yang ada, berada pada genggaman Alloh daripada meyakini apa yang ada ditangannya.

2. Apabila tertimpa musibah, maka hamba tersebut lebih mengharapkan ganjaran pahala atas musibah yang dialaminya.

3. Senantiasa memandang orang lain sama, baik orang yang memujinya maupun orang yang mencelanya, disaat dirinya berada di atas kebenaran.

Mari sahabat, kita mulai untuk sama-sama mengevaluasi hati kita, agar hati ini bisa senantiasa dicintai Alloh dan juga dicintai manusia. Dan semoga Alloh senantiasa menggolongkan kita menjadi orang-orang yang zuhud pada dunia dan juga zuhud pada apa yang ada disisi manusia. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin

KH. Abdullah Gymnastiar 
27 Maret 2019

Rabu, 20 Maret 2019

Istimewanya Besuk Saudara Sakit

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

Alhamdulilah arifin di saat rehat di Penang pun membesuk tetangga sebelah kamar yang sakit muslim dan bukan muslim semua didoakan dan dihibur dengan hikmah-hikmah.

SubhanAllah cinta Allah dan RasulNya membuat sayang semua karena Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Hak muslim terhadap muslim lainnya ada enam. Sahabat bertanya: Apa saja, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Bila ia bersin dan memuji Allah (mengucap: alhamdulillah) maka jawablah (dengan mengucapkan: yarhamukallah), bila ia sakit maka jenguklah, dan bila ia meninggal dunia maka antarkanlah (jenazahnya hingga makam)”
(HR. Muslim, no. 2162)

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit :

1. Merupakan kebun surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎مَنْ عَادَ مَرِيْضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Siapa saja yang menjenguk orang sakit akan senantiasa berada di kebun surga sampai ia kembali”.
(HR. Muslim)


2. Berada di dalam rahmat Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎مَنْ عَادَ مَرِيْضًا خَاضَ فِي الرَّحْمَةِ، حَتَّى إِذَا قَعَدَ اِسْتَقَرَّ فِيْهَا

“Siapa yang menjenguk orang sakit, ia akan masuk ke dalam rahmat (Allah), sehingga apabila duduk, ia akan berada di dalam rahmat tersebut”.
(HR. al-Bukhari)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

‎مَنْ عَادَ مَرِيْضًا خَاضَ الرَّحْمَةَ، فَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ اِسْتَقْنَعَ فِيْهَا، فَإِذَا خَرَجَ مِنْ عِنْدِهِ خَاضَ الرَّحْمَةَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ

“Barang siapa yang menjenguk orang sakit, ia masuk ke dalam rahmat (Allah). Apabila duduk di sisinya, ia merasa puas/tenang di dalam rahmat itu. Apabila keluar darinya ia senantiasa berada di dalam rahmat itu hingga ia pulang ke rumahnya”. 
(HR. Ibnu Abdil Barr di kitab at-Tamhid 24/273)


3. Berbuah banyak pahala dari Allah
Hadis qudsi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِيْ. قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُوْدُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِيْ فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِيْ عِنْدَهُ

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman pada hari kiamat: Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku. Ia berkata: Ya Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Tuhan alam semesta? Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sakit tapi engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu, bila menjenguknya niscaya engkau akan mendapati-Ku ada di sisinya?
(HR. Muslim)


4. Mendapatkan doa kebaikan dari malaikat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎مَنْ أَتَى أَخَاهُ الْمُسْلِمَ عَائِدًا مَشَى فِي خَرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ، فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

“Barang siapa yang mendatangi saudaranya muslim (yang sakit) untuk menjenguknya, ia berjalan di atas kebun surga hingga ia duduk. Apabila ia duduk, rahmat (Allah) akan menyelimutinya. Bila waktu itu pagi hari, tujuh puluh ribu malaikat akan bersalawat kepadanya hingga sore hari, dan bila ia melakukannya di sore hari, tujuh puluh ribu malaikat tersebut akan bersalawat kepadanya hingga pagi hari”.
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).


5. Penyebab masuk surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً

“Siapa yang menjenguk orang sakit atau berkunjung kepada saudaranya karena Allah, akan ada penyeru yang berseru, “Alangkah baiknya dirimu, alangkah baiknya langkahmu, engkau telah menempati tempat tinggal di surga”.
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Allahumma ya Allah sehat afiyatkan kami dalam keni’matan Istiqomah taat di JalanMu hingga wafat husnul khotimah.



K. H. Muhammad Arifin Ilham 
19 Maret 2019

Jaga Iman dan Akhlak

 Sahabatku iman yang paling baik adalah akhlak Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ ...